| |
Friday, 01 August 2014 01:51 | Oleh Lukman Hakim Saifuddin

HARI ini kalimat takbir dan tahmid berkumandang di mana-mana. Umat Islam melakukannya sebagai ungkapan syukur yang bercampur gembira mereka telah ber-Idul Fitri, kembali kepada kesucian, kembali kepada fitrahnya.

Apabila selama Ramadan kita selalu menyempatkan diri untuk membaca Alquran, beriktikaf, bangun di sepertiga malam untuk bertahajud, meneteskan air mata saat bermunajat bersimpuh di hadapan Allah SWT, berempati terhadap fakir miskin, melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi orang banyak, serta berbagai kebaikan lainnya, janganlah sampai kebaikan-kebaikan tersebut menjadi wajah indah kita yang bersifat sesaat. Tetapi, usahakanlah ia tetap bertahan dan terlaksana setelah Ramadan meninggalkan kita.

Perbuatan dan amal baik yang telah menjadi kebiasaan umat Islam selama Ramadan hendaknya mampu membentuk karakter mereka untuk berbuat hal yang sama setelah Ramadan berlalu.

Karena itu, Hari Raya Idul Fitri yang dikesankan sebagai agenda terakhir dari seluruh rangkaian ibadah Ramadan pada hakikatnya bukanlah saat-saat berakhirnya peluang untuk mendulang kebaikan. Justru sebaliknya, Idul Fitri adalah saat awal memulai kehidupan baru dengan hati yang bersih dan semangat yang baru.                                                              

***

Kawah candradimuka Ramadan yang telah menggembleng kita selama sebulan penuh dikatakan berhasil apabila mampu melahirkan sosok pribadi yang unggul, kuat, bersih dan berkarakter. Setidaknya ada dua capaian puncak yang bisa membentuk pribadi unggul dan harus dipertahankan untuk diamalkan. Pertama, kembali pulihnya fitrah spiritual. Kedua, kembali kepada fitrah sosial kita sebagai makhluk sosial.

Melalui tempaan puasa dan olah-spiritual Ramadan, fitrah kita yang tergerus oleh godaan nafsu dan syahwat yang dipengaruhi setan dipulihkan dan dikembalikan kepada asalnya yang suci. Fitrah spiritual yang berhasil diraih berupa pribadi yang bersih dan suci dari berbagai noda dan penyakit seperti syirik, sombong, hasad, dengki, dan berbagai penyakit hati lainnya haruslah selalu dipertahankan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Baik di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan sosial yang lebih luas.

Pribadi yang bersih selalu berupaya untuk membentengi diri dari sifat-sifat tercela. Semangat spiritual selalu terpatri dalam jiwanya dan secara berkesinambungan merasakan kehadiran dan pengawasan Allah dalam setiap gerak langkahnya sehingga dengannya dia termotivasi untuk tetap taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Pribadi yang fitri juga akan selalu memelihara kejujuran atau amanah. Pribadi yang amanah dihasilkan dari kemampuannya memahami inti ajaran puasa sebagai ujian bagi kejujuran. Kejujuran adalah satu kekuatan yang terdapat dalam jiwa yang membuat pemiliknya mampu melakukan tugas-tugas besar yang diembankan kepadanya.

Pribadi yang amanah sangat diperlukan dewasa ini untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa seperti pemberantasan korupsi, penegakan hukum dan HAM, serta pengentasan kemiskinan. Pribadi yang bersih, jujur dan amanah yang dibentuk melalui latihan Ramadan akan mampu menyelamatkan bangsa kita terbebas dari krisis kepercayaan yang membahayakan keutuhan negara kita.

Dengan jiwa yang amanah, cita-cita kita menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, masyarakat adil dan makmur, akan dapat diwujudkan. Ibadah Ramadan juga membimbing umat menuju pemulihan fitrah sosialnya, yaitu kesadaran akan kenyataan kemajemukan dalam kehidupan bermasyarakat, dan kesetaraan di antara sesama manusia.

Fitrah sosial akan membimbing kesadaran emosi kita menjadi lebih terkendali, membuat kita bisa bersikap lebih arif bijaksana dan toleran dalam melihat perbedaan, yang dalam bahasa agama disebut dengan sabar.

Sabar dalam Islam bukanlah satu kelemahan, tetapi justru merupakan satu kekuatan. Di dalam Alquran dijelaskan bahwa satu orang yang sabar mampu mengalahkan sepuluh kali lipat lawan dalam pertempuran atau setidaknya mampu menghadapi lawan sebanyak dua kali jumlah mereka (QS Al Anfal/8: 65-66). Rasulullah SAW bersabda, ”Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang dapat menahan diri saat marah datang menghampiri,” (H.R. Imam Al Bukhari).

Kesabaran merupakan karakter yang sangat mulia dan hanya bisa diraih dengan cara melatih dan membiasakan diri dengannya. Bulan Ramadan merupakan kesempatan yang baik bagi seorang muslim untuk melatih kesabaran itu, untuk mengontrol jiwanya dari pengaruh hawa nafsu. Dengan begitu, lepas dari bulan Ramadan, dia menjadi pribadi yang kuat dan pandai mengendalikan diri. Karena itu, kehidupan kita berbangsa dan beragama ke depan sudah seharusnya menjadi lebih baik. Tidak ada lagi kekerasan, pengusiran, atau main hakim sendiri. Dengan kearifan, kesabaran, dan juga sikap toleran yang kita bina selama Ramadan, kita semestinya dapat mengatasi berbagai perbedaan yang kerap kali melahirkan permusuhan dan berlanjut pada kekerasan antar sesama kita.

Dengan fitrah sosial, kita semestinya mampu menahan diri dari godaan egoisme kelompok, superioritas, nafsu berkuasa, fanatisme mazhab, dan lain sebagainya, dan pada saatnya kita harus mampu mewujudkan kedewasaan hidup berbangsa dan beragama yang lebih berkualitas.

Fitrah sosial yang menyadarkan kesetaraan antar sesama juga akan menghapus sekat-sekat antara yang kaya dengan yang miskin. Apa yang dirasakan oleh yang papa, itu jugalah yang dirasakan oleh yang kaya saat berpuasa.

Maka, puasa akan membangun jembatan untuk menyatukan perasaan antar sesama umat Islam tanpa memandang status sosial untuk saling mencintai, saling membantu, dan saling berbagi. Mungkin ini jugalah salah satu rahasia kenapa zakat fitrah diwajibkan kepada semua orang, termasuk yang miskin sekalipun, agar supaya semua kita bisa merasakan nikmatnya memberi, meski hanya sekali dalam setahun. Itulah dua prestasi besar yang dapat diraih secara nyata dalam setiap pribadi muslim melalui pelaksanaan ibadah puasa. Sebagai seorang muslim yang setiap tahun melaksanakan ibadah Ramadan, kita sudah semestinya selalu mawas diri.

Setelah itu, berusaha sungguh-sungguh agar kondisi kembali kepada fitrah, baik fitrah spiritual maupun sosial, benar-benar efektif memandu perjalanan hidup yang lurus agar diridai-Nya.

Akhirnya, marilah kita sambut hari bahagia ini sebagai sandaran untuk memulai kehidupan baru, dengan hati dan semangat yang baru. Maafkanlah segala kesalahan. Lupakan segala kekhilafan. Tinggalkan segala kekerasan. Mari jalin kasih sayang dalam kebersamaan. Semoga kita semua diizinkan kembali untuk menikmati berkahnya Ramadan tahun depan. (*)

Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama Republik Indonesia)
Opini | Jawa Pos | 28 Juli 2014 03:50 WIB

 

Halaman 1 s/d 14

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
LHS 2012/Harlah PPP ke-39