| |
Tuesday, 09 September 2014 07:14

Kesederhanaan tetap ia jalani hingga akhir hayatnya.Terpilihnya Lukman Hakim Saifuddin sebagai menteri agama menggantikan Suryadharma Ali akan menjadi sejarah yang luar biasa. Bukan lantaran pergantiannya, melainkan bahwa Indonesia mempunyai menteri agama yang memiliki hubungan darah, ayah, dan anak.

Lukman adalah putra dari menteri agama ke-9, yakni KH Saifuddin Zuhri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, demikian kata pepatah.

Siapakah sosok ayahanda Menag Lukman?
KH Saifuddin Zuhri merupakan seorang ulama, pejuang kemerdekaan, politikus, sekaligus wartawan. Sosok yang lahir pada 1 Oktober 1919 ini tumbuh dan berkembag di keluarga yang taat agama. Saifuddin kecil pun dibesarkan dalam pendidikan pesantren di daerah kelahirannya, Banyumas, Jawa Tengah.

Semasa kecil, ia pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Manbaul Ulum dan Salafiyah. Pada usia ke-17, dia meninggalkan Banyumas, pergi ke Solo dan melanjutkan pendidikan untuk memperdalam ilmu agama Islam di LP (Lembaga Pendidikan) Al-Islam, Solo.

Di Solo juga inilah, Saifuddin berkenalan dengan dunia jurnalistik yang membuatnya menghasilkan berbagai tulisan dan buku. Ia juga sempat menjadi koresponden kantor berita, yang kini dikenal sebagai Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, dan beberapa harian serta majalah.

Pada saat yang bersamaan, ia mulai bersinggungan dengan dunia pergerakan pemuda Islam. Terlebih, ia hidup pada masa tempaan pergolakan bersenjata dan pergerakan politik.

Ia terpilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Daerah Jawa Tengah Selatan dan Konsul Nahdlatul `Ulama Daerah Kedu. Pada waktu yang sama juga ia tetap mengabdikan dirinya mengajarkan ilmu agama sebagai merangkap guru madrasah.

Saifuddin muda sempat memimpin laskar Hizbullah bersama pasukan TKR di bawah pimpinan Jenderal Sudirman berperang bersama di pertempuran Ambarawa.Kemampuan keilmuan yang begitu luas membuat Kiai Saifuddin bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, melainkan juga seorang pejuang dan wartawan.

Aktif dalam organisasi pergerakan Islam Nahdlatul Ulama (NU) membuatnya terjun ber kecimpung dalam dunia politik.

Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI pada usia 39 tahun.Hingga pada 6 Maret 1962, Presiden Soekarno memintanya menjadi menteri agama ketika berusia 43 tahun. Ketika menjabat sebagai menteri agama, KH Saifuddin Zuhri dikenal sebagai perintis pengembangan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di berbagai daerah di Indonesia.

Kiprah politik lain, ia pernah menjabat ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan, Anggota DPR/MPR. Dalam bidang pendidikan, ia pernah menjadi salah satu Guru Besar di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sedangkan dalam bidang kewartawanan, ia pernah menjadi pemimpin redaksi Harian Duta Masyarakat. Di dunia tulis-menulis, ia termasuk produktif. Berbagai karya tulis telah banyak dihasilkannya, di antaranya salah satu karya autobiografinya yang ditulis menjelang akhir hayatnya, Berangkat dari Pesantren, yang diselesaikannya pada 10 September 1985.

Buku autobiografi ini pun menjadi sejarah perjalanan KH Saifuddin Zuhri. Karena berselang enam bulan diselesaikannya buku ini, ulama yang juga pejuang, politikus, serta wartawan itu harus `berpulang'.

KH Saifuddin Zuhri wafat pada 25 Februari dalam usia 66 tahun, meninggalkan 10 anak hasil pernikahannya dengan Solichah.

Keteguhannya dalam berjuang, kesederhanaannya, dan integritas nya dalam mengemban amanah menjadi contoh panutan bagi setiap pemimpin bangsa ini.

Sosok Panutan yang Sederhana
Fase demi fase kehidupan Saifuddin membuatnya memiliki karakter kuat sebagai pemimpin pelayan rakyat. Ia adalah sosok panutan. Ketika menjabat sebaga menag ke-9 (1962-1967) pada Kabinet pemerintahan Presiden Soekarno, ia dikenal tidak mau memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya.

Ia pernah menolak menghajikan adik iparnya, Mohammad Zainuddin Dahlan, dengan biaya dinas dari Departemen Agama ketika ia menjabat sebagai menag pada saat itu. Karakter pribadi yang sederhana dengan integritas tinggi itu telah dipupuk sejak ia kecil oleh kedua orang tuanya.

Ia tetap memilih hidup dalam kesederhanaan. Ia bahkan dikisahkan tetap memilih berdagang beras di Pasar Glodok sehabis shalat Dhuha meski pernah menjadi menteri agama.

rep:Amri Amrullah ed: nashih nashrullah

Republika | Minggu, 07 September 2014 | 19:00 WIB

 

Halaman 1 s/d 14

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
LHS 2012/Harlah PPP ke-39