| |
Wednesday, 03 July 2013 15:08

Rabu, 3 Juli 2013
JAKARTA (Suara Karya): Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendukung bila Kiai Haji (KH) Saifuddin Zuhri disahkan menjadi pahlawan nasional.

"KH Saifuddin Zuhri merupakan salah seorang yang turut memberi kontribusi tenaga dan pikirannya dalam perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah," kata ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj di kantornya, Jakarta, Selasa (2/7).

Dalam acara Seminar Perjuangan dan Pengabdian KH Saifuddin Zuhri sebagai pahlawan nasional tersebut, dia mengatakan Saifuddin memiliki jiwa kesederhanaan dan tanggung jawab kemanusiaan kepada umat.

Sebelumnya, sejumlah figur nasional telah memberikan dukungan atas pengukuhan Saifuddin Zuhri menjadi pahlawan nasional. Seperti Mahfud MD, Din Syamsuddin, Tarmizi Taher dan mendiang Taufiq Kiemas Pascakemerdekaan Indonesia, Belanda tidak tinggal diam Nusantara sebagai kawasan koloni Hindia-Belanda lepas begitu saja. Sehingga mereka berusaha kembali menguasai wilayah-wilayah penting di Indonesia seperti Semarang, Ambarawa dan Magelang.

Pada akhir tahun 1945, KH Saifuddin Zuhri menjadi pemimpin Hizbullah yang berafiliasi dengan Tentara Keamanan rakyat (TKR) yang kini mmenjadi TNI, untuk mengusir Belanda yang kembali ke Indonesia bersama tentara Sekutu. Selain itu, dia bekerja sama dengan sejumlah pahlawan nasional dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia seperti Jenderal Sudirman, Jenderal A Yani dan M Sarbini.

Said Aqil mengatakan sepak terjang Saifuddin yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI tahun 1962-1967, itu dari pendidikan pesantren. "Dia merupakan seorang yang tumbuh dari sebuah pesantren kecil yang tidak tenar namanya. Akan tetapi, di tengah upayanya belajar di sana dia mampu berdikari, otodidak belajar serta tidak pernah memikirkan akan menjadi apa setelah selesai belajar 'nyantri" di Banyumas," katanya.

Menurut Said, apa yang ada di benak KH Saifuddin adalah keyakinannya menuntut ilmu sebagai kewajiban seorang Muslim. Pesantren merupakan tempat yang dianggap oleh orang awam sebagai lembaga pendidikan yang tidak menjanjikan masa depan. Namun, sejatinya memang para santri yang belajar itu bukan bertujuan sekedar mencari masa depan materiil. (Kartoyo DS/Ant)

Suara Karya
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=329767

LHS 2012/Harlah PPP ke-39