| |
Friday, 05 July 2013 06:53

Jakarta, NU Online
Sejarawan Anhar Gongong mengatakan, seseorang yang layak dikatakan pahlawan adalah orang yang mampu melampaui dirinya. Dalam konteks sekarang hal  itu yang kurang. Perampok negara (koruptor) itu kan tidak memikirkan negara dan orang lain.

Ia mengatakan hal itu pada seminar “Perjuangan dan Pengabdian KH Saifuddin Zuhri untuk Bangsa dan Negara: Usulan sebagai Calon Pahlawan Nasional Tahun 2013" di Gedung PB NU lantai 8, Jakarta, Selasa (2/7) siang.  

Menurut Anhar, tujuan kita memberikan gelar pahlwan kepada seseorang sebenarnya bukan kepada orang itu, tetapi untuk kita yang masih hidup karena dari almarhum itu kita dapat menimba berbagai hal untuk melanjutkan kehidupan bersama kita.

“Kalau kita berikan gelar pahlawan kepada Pak Saifuddin Zuhri, maka kita dapat berbagai hal yang dapat kita gunakan untuk melihat masa depan Indonesia dalam arti proses-proses yang terjadi, pergumulan-pergumulan dia sebagai pemimpin, sebagai anak muda yang ikut berorganisasi,” katanya.

Dia kemudian menyebutkan sepak terjang dan sumbangan tokoh NU kelahiran Banyumas, Jawa Tengah tersebut.

Menurut Anhar, KH Saifuddin adalah seorang pemikir, hal itu dibuktikan dengan buku-bukunya. “Pak Saifuddin tak pernah almarhum. Dia tetap bersama kita karena pemikirannya. Bukan karena perbuatan fisiknya, tapi pemikirannya. Dalam konteks sekarang sedikit sekali pemimpin yang meninggalkan buku-buku.”

Seorang pahlawan, tambah Anhar, tak bisa dilepaskan kapan dimana ia hidup (konteks). Menurut dia, ada suatu kondisi yang memperlihatkan dan menyebabkan seseorang berjasa. KH Saifuddin Zuhri memimpin pada saat krisis. Ia bersama dan ada dalam krisis dan bersama menyelesaikannya, “Dan Pak Saifuddin Zuhri dalam batas tertentu berperan dalam konteks itu.”

Ia menyebutkan satu sisi Kiai Saifuddin yang berani berkata tidak kepada Presiden Soekarno ketika orang lain tidak berani. Satu contoh misalnya ia berani menentang presdien waktu akan membubarkan organisasi mahasiwa Partai Masyumi, HMI.

“Pak Saifuddin menanggap Presiden Soekarno waktu itu berlebihan,” ujarnya.

Penulis: Abdullah Alawi

Jumat, 05/07/2013 01:00

LHS 2012/Harlah PPP ke-39