| |
Wednesday, 10 July 2013 14:55

Dalam pertempuran Ambarawa, lahir seorang panglima pertempuran yang gagah berani, yang membuktikan kecakapannya dalam strategi dan operasi tempur. Panglima itu, menurut KH Saifuddin Zahri dalam buku Berangkat dari Pesantren adalah Soedirman, Komandan Divisi TKR Banyumas yang berpangkat kolonel.

Dalam pertempuran Ambarawa, Kol. Soedirman memimpin langsung dengan menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Tujuannya adalah memutus rantai komunikasi dan logistik antara Sekutu dengan induknya.

Untuk itu, Kolonel Sudirman membutuhkan dukungan banyak tentara. Tidak mungkin ia menggunakan taktik itu jika mengandalkan tentara reguler, yaitu TKR. Kedatangan laskar-laskar rakyat menjadi sangat penting, karena akan menjadi elemen penting untuk mengefektifkan taktik supit urang.

Salah satu laskar rakyat yang paling terorganisasi dan terlatih adalah Hizbullah. Komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah saat itu, KH Saifuddin Zuhri harus bekerja keras agar taktik yang telah digariskan Sudirman dapat berhasil dengan baik.

Menjelang pertempuran, KH Saifuddin Zuhri harus memobilisasi laskar Hizbullah dalam jumlah besar, karena tektik supit uurang membutuhkan pasukan yang sangat banyak karena menyerang musuh dari dua arah.

Selanjutnya, dalam pertempuran Komandan Hizbullah juga harus menjaga disiplin dan ritme pertempuran agar sampai pada titik penyerangan secara bersamaan dengan pasukan yang berada di arah sebaliknya. Percuma, jika pasukan dari zona utara datang duluan, sementara pasukan dari zona selatan masih di perjalanan. Jika hal itu terjadi, maka tentara Sekutu akan mudah melumpuhkan perlawanan.

Pertempuran Ambarawa memberikan pelajaran penting, yaitu: pertama jika seluruh rakyat bersatu, dengan senjata yang minimal pun mampu mengalahkan musuh dengan persenjataan modern. Kedua, kemenangan bangsa Indonesia dalam pertempuran Amarawa merupakan pernyataan penting bahwa seluruh rakyat Indonesia mendukung Proklamasi Kemerdekaan RI. Ketiga, perang Ambarawa merupakan pesan penting bahwa Sekutu tidak boleh melibatkan diri membantu Belanda yang ingin berkuasa kembali.

Karena keterlibatan aktif, sungguh-sungguh, dan penuh kepahlawanan dari KH Safuddin Zuhri dalam Pernag Ambarawa dan perang gerilya lainnya, malka Presiden/Panglima Tertinggi Angkata Bersenjata Republik Indonesia menganugerahkan “Tanda Kehormatan Bintang Gerilya”, sesuai dengan SK Presiden Republik Indonesia No. 2/Btk/165 tanggal 4 Januari 1965.

Tanda Kehormatan Bintang Gerilya adalah tanda yang dikeluarkan untuk setiap warga negara RI yang menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia semasa revolusi antara tahun 1945-1950. Mereka yang menerima Tanda Kehormatan Bintang Gerilya berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Ditulis ulang dari, “Riwayat Perjuangan dan Pengabdian Prof KH Saifuddin Zuhri untuk Negara dan Bangsa”

Selasa, 09/07/2013 19:00

KH Saifuddin Zuhri dan Pertempuran Ambarawa (2-habis)
 

Halaman 2 s/d 14

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
LHS 2012/Harlah PPP ke-39