| |
Saturday, 06 July 2013 12:17

DUTAonline, JAKARTA - MENTERI Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, menyambut positif usulan agar KH Saifuddin Zuhri diberi gelar pahlawan nasional. Ketua Umum DPP PAN ini menilai dedikasi pria yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan itu sangat tinggi terhadap perkembangan dan pembangunan Indonesia seutuhnya.

“Iya saya setuju pemberian gelar pahlawan nasional kepada Beliau (KH Saifuddin Zuhri), karena Beliau sosok ulama yang telah berjuang dalam proses kemerdekaan Indonesia,” ujar Hatta kepada Duta Masyarakat usai menghadiri pembukaan pelatihan dai di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Jumat (5/7).

Namun demikian, pemberian gelar pahlawan nasional kepada seorang tokoh tidak diberikan begitu saja sebab harus melalui seleksi dan mengikuti proses aturan yang telah ditentukan. “Pemberian gelar pahlawan nasional itu kan ada tim khusus, ada panitianya yang menyeleksi dan menentukan bahwa tokoh itu diberi gelar atau tidak, ya mudah-mudahan saja bisa,” ungkapnya.
 
Dukungan juga datang dari Ketua MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin. Kiai Ma’ruf mengatakan KH Saifuddin layak menjadi pahlawan nasional karena pengabdiannya kepada negara memang nyata. “Beliau kan pernah jadi Menteri Agama, Sekjen PBNU, Partai NU, dan pernah berjuang mengusir penjajah saat menjadi panglima Hizbullah. Beliau menjabat di jabatan strategis lainnya,” ujarnya.
 
Atas dasar keteladanannya itu, KH Saifuddin pantas diberikan gelar sebagai pahlawan nasional. “Jadi, memang sudah sewajarnya, kalau membaca kisah perjuangan dan pengabdian Beliau itu, pantas diberi gelar pahlawan nasional,” ungkapnya.
 
Namun, lanjut Kiai Ma’ruf, selain KH Saifuddin juga banyak tokoh dan ulama pejuang dan pengabdi negara yang belum diberikan gelar pahlawan nasional. Misalnya Gus Dur. “Beliau kan belum diberi gelar pahlawan, karena masih proses,” katanya.

Meski usulan dan rekomendasi dari berbagai kalangan agar KH Saifuddin diberikan gelar pahlawan nasional sudah lama tapi karena harus mengikuti proses seleksi, gelar pahlawan ini belum diberikan. “Jadi memang ada kriteria-kriteria tersendiri untuk pemberian gelar pahlawan nasional, saya tidak tahu ukuran dan kriterianya seperti apa, akan tetapi ada tokoh yang menjadi prioritas dan tentu diukur besar kecilnya perjuangan dan pengabdiannya, saya kira begitu,” kata Kiai Ma’ruf.

Rapi Kliping Duta Masyarakat

Banyak kenangan dan pengetahuan tentang kenegaraan, politik, budaya dan penguatan tradisi pesantren yang dipersembahkan oleh KH Saifuddin Zuhri untuk agama, negara, dan anak bangsa. Bukti kenangan dan pengetahuan itu masih terawat apik dalam bentuk majalah, koran, makalah, buku, album, video, dan foto-foto serta dokumen penting lainnya.

Semua arsip tersimpan dan tertata rapi dalam ruangan pribadi KH Saifuddin Zuhri dan ruangan umum di kantor Yayasan Saifuddin Zuhri yang beralamat di Jl. Daud No. 31 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Sekretaris Yayasan Saifuddin Zuhri, H Ali Zawawi, mengatakan, banyak dokumen dan karya-karya penting KH Saifuddin Zuhri dari awal perjuangan hingga masa-masa jayanya, masih tersimpan rapi di yayasan ini. “Seperti Koran Duta Masyarakat itu sampai sekarang masih ada,” ujarnya.
 
Bahkan untuk majalah dan koran, lanjut Ali Zawawi, oleh KH Saifuddin Zuhri memang sengaja dikliping dan dijilid menjadi satu bandel besar, untuk dokumen dan menjadi arsip penting. “Jadi, seperti Koran Duta Masyarakat itu dikumpulkan dan dijilid besar gitu,” ungkap orang yang aktif di Yayasan Saifuddin Zuhri sejak 1990 ini.

Menurut Ali Zawawi, selain buku dan karya besar, banyak peninggalan dan kontribusi yang diberikan KH Saifuddin terkait pendidikan dan penguatan tradisi pesantren, yang dikembangkan di Yayasan Saifuddin Zuhri. “Yakni 4 pilar Pesantren,” ujarnya.

Empat pilar itu meliputi, manajemen kepesantrenan, pelatihan guru-guru (by skill), pengembangan ekonomi pesantren dan pengembangan tradisi menulis. “Jadi, 4 pilar pesantren peninggalan Beliau inilah yang masih kami jalankan dan dikembangkan di sini,” terangnya.

Ia berharap, usulan semua pihak agar KH Saifuddin Zuhri menjadi pahlawan nasional terkabul dan terealisasi segera. “Terpenting lagi adalah agar semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan mengalir terus, serta menjadi pelajaran berharga untuk negara dan bangsa,” pungkas Ali Zawawi. (*)

Penulis: HUDA SABILY, JAKARTA

05/07/2013 | Dalam Kategori: Berita Nasional |

 

Halaman 3 s/d 14

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
LHS 2012/Harlah PPP ke-39