Memaknai Sejarah Islam dengan Kearifan Setempat: sebuah Pengantar

Sejarah adalah bagian terpenting dari peradaban umat manusia. Kita dapat mengetahui dan memahami sebuah peristiwa di masa lalu berkat jasa para penulis sejarah yang rela menyisihkan sebagian waktunya untuk mengumpulkan penggalan informasi berbagai peristiwa yang terserak, dan kemudian merekonstruksikannya menjadi sebuah karya. 

Tidak mudah untuk menulis sebuah karya sejarah, apalagi kalau peristiwa yang ingin diceritakan ulang itu terjadi membentang ratusan bahkan ribuan tahun lalu.

Perlu kehati-hatian dalam memilah sumber, mana yang tingkat akurasi dan kepercayaan atas kebenaran informasinya tinggi, dan mana yang patut diragukan. Perlu juga pengetahuan untuk membedakan, mana fakta yang benar-benar terjadi, dan mana kisah yang merupakan dongeng belaka.


Judul: Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia
Tebal halaman: xxiv + 736 Hlm
Ukuran: 13,5 x 20,5 cm
Cetakan Pertama, Oktober 2019
ISBN: 978-602-0821-38-2


Untuk itulah saya ingin mengapresiasi upaya penerbitan kembali buku Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya Prof. K.H. Saifuddin Zuhri ini, yang edisi perdananya terbit pada tahun 1979. Karya sejarah yang cukup tebal ini, yakni 737 halaman, bertujuan untuk menceritakan sejarah kebangkitan Islam sejak masa awal kerasulan Nabi Muhammad Saw pada abad ke-6 M di Jazirah Arab, hingga perkembangannya di Indonesia.

Apa pentingnya buku lawas ini dihadirkan kembali ke hadapan pembaca era milenial?
Pertama, pengetahuan tentang sejarah Islam akan terus diperlukan oleh setiap generasi. Kisah keteladanan Nabi, komitmen kesetiaan para sahabat, kecendekiaan para tabi’in dan tabi’ tabi’in dalam menyusun teks-teks klasik keislaman, dakwah para penyebar Islam ke berbagai belahan dunia termasuk ke Indonesia, hingga dinamika dan perkembangan Islam di era kemerdekaan, adalah pengetahuan yang sudah sepatutnya terus dihidangkan, agar umat Islam di Indonesia dari generasi ke generasi tak henti memperoleh pencerahan, serta senantiasa mampu mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang terjadi.

Kedua, meski ditulis pada era tahun 1970an, gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini justru sangat sesuai dengan karakter pembaca di era milenial, yakni: ringan, mengalir, tidak kaku, meski dengan tetap menyertakan sejumlah referensi buku ilmiah sebagai rujukan. Satu lagi, kalau dibaca dengan rasa, rangkaian kalimat di sebagian buku ini memiliki rima, meski tentu tidak dimaksudkan sebagai untaian puisi.

Ketiga, berbeda dengan buku-buku sejarah lainnya yang semata menghadirkan kronologi dan fakta, narasi dalam buku ini banyak menyertakan ‘hikmah’ dan pelajaran normatif yang dapat dipetik dari pengetahuan tentang perjalanan sejarah Islam yang dikemukakan. Penulis juga banyak menekankan pada sisi kemanusiaan tokoh yang diceritakan. Soal sejarah kebangkitan dan kejayaan Islam, misalnya, tidak sekadar digambarkan sebagai sebuah keberhasilan ekspansi politik, melainkan dicapai berkat akhlak mulia, kesederhanaan, kerja keras, serta teladan Nabi Muhammad Saw, baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin.

Penulis, misalnya, secara berimbang mengemukakan bahwa kunci keberhasilan dakwah Rasul di satu sisi tentu atas pertolongan Allah Yang Maha Besar. Akan tetapi, kalau dilihat dari perspektif sebagai seorang manusia, sebab utamanya ialah karena Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang jujur serta paling dipercaya rakyatnya. Di sini, sisi-sisi kemanusiaan Nabi pun banyak ditonjolkan.

Kini tentu sudah banyak buku sejarah Islam lain yang ditulis, dan mungkin mencakup masa perkembangan Islam di Indonesia yang lebih mutakhir. Namun demikian, setidaknya ketiga pertimbangan yang saya tuliskan di atas cukup menjadi alasan mengapa buku ini tetap bermanfaat untuk dihadirkan kembali.

Tentu sedikit berbeda dengan buku-buku sejarah pada umumnya, buku ini terasa lebih ditujukan bagi masyarakat umum, para khatib, atau pendakwah, yang lebih menghendaki narasi sejarah berbobot tapi ringan dibaca. Kalangan peneliti tentu dapat tetap menjadikannya sebagai referensi kajian akademik, asal jangan terlalu banyak berharap akan menemukan data-data detil kronologi, seperti tanggal atau tahun setiap peristiwa secara konsisten, termasuk yang terkait dengan kehidupan Nabi sekali pun.

Meski bahasanya ringan, namun penulis tampak sekali berkeinginan untuk memasukkan kronologi panjang sejarah Islam yang membentang dari masa Nabi Muhammad Saw, hingga perkembangannya di Indonesia. Dengan serba singkat, penulis menceritakan perkembangan Islam di Indonesia, dengan merujuk pada sumber-sumber tertulis, atau dengan mendasarkan pada kesimpulan-kesimpulan seminar tentang kedatangan Islam, yang sebagiannya ia ikuti langsung.

Penulis bahkan memberikan perhatian khusus pada sejarah Walisongo, yang merupakan pendakwah awal Islam di wilayah ini. Biografi singkat para Wali Songo yang disuguhkan cukup memberikan informasi awal kepada pembaca. Selain Wali Songo, penulis juga menyajikan informasi tentang sejumlah ulama Nusantara yang produktif menulis, di samping ulama-ulama Arab yang berpengaruh. Lalu, meski serba singkat dan tidak mencakup semua, namun sebagian sejarah kesultanan Islam di Nusantara juga menjadi topik bahasannya. Ini semua dikemukakan untuk menyambung benang merah sejarah kebangkitan Islam di dunia Arab, hingga perkembangan dan dinamikanya dalam konteks politik nasional Indonesia pasca kemerdekaan.

Sebagai Menteri Agama, saya amat sangat berharap bahwa buku-buku tentang sejarah perkembangan Islam, baik di dunia Arab, maupun sejarah Islam di Indonesia, dapat memberikan penekanan pada narasi sejarah yang tidak saja mengajak untuk mengingat peristiwa, menghapal angka tahun, melainkan sekaligus dapat menstimulus pembaca untuk memahami esensi ajaran Islam, yang telah tumbuh sejak masa lalu, dan dengan jelas menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Kita tahu bahwa peristiwa perang, khususnya pada masa awal perkembangan Islam di dunia Arab misalnya, adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Islam, dan tidak mungkin dihapus dengan cara apapun. Sejarah perang tetap ditulis. Namun, peristiwa perang dapat dinarasikan ulang dengan menafsirkannya sebagai upaya terakhir dalam rangka menegakkan sebuah peradaban ilahiyah dan nilai-nilai kebenaran. Dengan demikian, para pembaca buku sejarah, pelajar, dan mahasiswa lebih mendapat manfaat nilai positif, ketimbang narasi emosional sejarah perang sebagai cara penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan pertikaian.

Saya sendiri percaya bahwa Nabi tidak pernah menyebarkan Islam dengan nafsu amarah, dengan murka, atau penuh kebencian. Ia malah dikenal sebagai pemaaf, bahkan memaafkan sebelum orang yang berbuat aniaya kepadanya meminta maaf. Sejarah dakwah Nabi di Thaif, yang juga diceritakan dalam buku ini, misalnya, adalah contoh gamblang bagaimana Rasul sudah sampai pada tingkat paripurna dalam memaafkan orang-orang yang semula membencinya. Kita tahu, kepada Bani Tsaqif di Thaif yang melemparinya dengan batu hingga berlumur darah, Nabi malah mendoakan agar dari mereka lahir generasi yang kelak paling teguh dalam menyembah Allah SWT. Ini tauladan Rasul yang harus terus menerus kita gaungkan.

Karenanya, narasi ulang sejarah Islam yang lebih menonjolkan sisi-sisi kemanusiaan pribadi Nabi, para sahabat, para ulama salaf, serta para ulama pendakwah di Nusantara, sangat penting dilakukan saat ini agar para pembaca tidak sekadar diajak melihat peristiwa masa lalu apa adanya, melainkan disuguhi penafsiran sejarah yang dapat memberikan kontribusi membentuk cara pandang, sikap, dan praktik keagamaan yang mendukung perdamaian dunia. Sejarah masa lalu diceritakan bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk diproyeksikan membangun peradaban masa depan.
Jika strategi ini dapat dilakukan, maka buku-buku sejarah Islam yang ditulis tidak akan terkesan garang penuh dengan sejarah pertumpahan darah belaka, melainkan lebih menampilkan kesan Islam yang santun, ramah, dan memberikan pesan damai kepada sesama. Pesan ini harus kita sampaikan bersama kepada anak-anak didik kita yang hendak membaca sejarah.

Akhirnya, saya berharap bahwa penerbitan ulang buku ini menjadi amal jariah yang terus mengalir kepada penulisnya, K.H. Saifuddin Zuhri, selama kemanfaatan buku ini dirasakan oleh khalayak pembaca. Semoga.

Jakarta, 1 Oktober 2019
Menteri Agama RI
Lukman Hakim Saifuddin

Top