Lukman Hakim: Rekrutmen Hakim Tipikor Perlu Dibenahi

KBRN, Jakarta : Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin mengatakan rekrutmen hakim ad-hoc di pengadilan tindak pidana korupsi perlu dibenahi supaya kejadian suap seperti di Semarang tidak kembali terulang.
Kita tentu merasa sangat terpukul dengan kejadian itu karena justru dilakukan oleh aparat penegak hukum," kata Lukman Hakim seusai bersilaturahmi dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, Minggu (19/8).

Lukman mengatakan kejadian itu seharusnya membuka mata masyarakat dan pemerintah untuk memperbaiki mekanisme rekrutmen hakim ad-hoc tipikor karena institusi kehakiman merupakan jantung penegakan hukum.
Menurut dia, tidak ada kata maaf bagi para hakim yang terbukti menerima suap untuk memenangkan suatu kasus karena hakim merupakan benteng terakhir dalam upaya pemberantasan korupsi.
Selain itu, dia mengatakan penangkapan hakim ad-hoc tipikor di Semarang menunjukkan bahwa KPK tidak pandang bulu dalam upaya pemberantasan korupsi.
"Justru KPK harus memprioritaskan aparat penegak hukum dalam upayanya memberantas korupsi karena merekalah yang diharapkan memberantas korupsi di Indonesia," katanya.
Meski begitu, dia menyatakan tidak setuju bila pengadilan tipikor dihapuskan karena adanya kasus penyuapan hakim. Menurut dia, bukan lembaga peradilannya yang salah, tetapi personel hakimnya.
"Proses rekrutmennya yang harus diperbaiki. Kejadian ini harus menjadi evaluasi, bukan pengadilannya yang dihapus," katanya.
Sebagaimana diberitakan, dua orang hakim ad-hoc dari Pengadilan Tipikor Kota Semarang dan seorang pengusaha yang sedang menjadi tersangka korupsi ditangkap KPK karena kasus suap, pada 17 Agustus 2012..
Kedua hakim yang menerima suap itu sudah cukup lama menjadi target KPK karena terlalu sering membebaskan terdakwa korupsi. Salah satu hakim itu bahkan merasa tidak akan tertangkap KPK karena yakin petugas lembaga itu sedang libur Lebaran.
Ketiga orang itu ditangkap KPK di area parkir Pengadilan Negeri Semarang dengan barang bukti uang suap sebanyak Rp150 juta. (WDA/ant)
(Editor : Waddi Armi)

Minggu , 19 Agustus 2012 14:44:35
Oleh : Waddi Armi

Top