Aksi Terorisme Tidak Bisa Disikapi dengan Kebijakan Sesaat

Aksi terorisme di Indonesia tidak bisa disikapi dengan kebijakan yang sporadis, parsial, dan sesaat. Sebaliknya, negara harus menyikapinya secara menyeluruh, terencana dan terstruktur.

"Mengatasi masalah terorisme yang aksinya kini muncul kembali, tak bisa disikapi dengan kebijakan yang sporadis, parsial, dan sesaat," kata Wakil Ketua Umum DPP PPP Lukman Hakim Saefuddin dalam rilis yang diterima merdeka.com, Senin (10/9).

Menurut Lukman, negara harus menerapkan konsepsi penanggulangannya yang utuh menyeluruh, terencana-terstruktur, dan dilakukan massal dengan mengintegrasikannya ke dalam program-program pembangunan.

"Aksi-aksi teror yang muncul belakangan ini tak bisa hanya ditimpakan karena alasan agama semata. Benar bahwa adanya pemahaman ajaran agama tertentu bisa menjadi faktor yang memotivasi lahirnya aksi-aksi kekerasan, tapi itu bukan satu-satunya faktor penyebab," kata Lukman.

Oleh karena itu, menurutnya, kebijakan sertifikasi bagi pemuka agama misalnya, merupakan kebijakan yang salah sasaran. Karena terlalu menyederhanakan masalah.

"Tindakan intoleran, anti-keragaman, menolak dialog, dan memaksakan kehendak dengan kekerasan, sebagaimana yang dilakukan para teroris itu, disebabkan karena faktor-faktor yang kompleks yang saling terkait," jelas Lukman.

"Pendidikan terbatas, ekonomi buruk, ketimpangan sosial, kekecewaan politik, pudarnya nilai-nilai budaya, dan banyak lainnya yang menjadikan mereka frustasi, sehingga terjebak ambil jalan pintas untuk menyelesaikannya dengan kekerasan," lanjutnya.

Selain itu, Lukman menegaskan, belum lagi sistem data kependudukan kita yang amat lemah, sehingga negara ini dinilai menjadi tempat persemaian teroris.

"Ketiadaan Single Identity Number (nomor induk kependudukan) hingga saat ini, misalnya, juga menjadi faktor yang sebabkan banyak aktivitas penduduk yang tak terdeteksi dengan baik oleh aparat keamanan kita," kata Lukman.

"Jadi, perlu kebijakan komprehensif yang implementasi dan evaluasinya harus dikawal terus menerus oleh presiden," pungkasnya.
(mdk/sho)

SENIN, 10 SEPTEMBER 2012 17:01:21
Reporter : Muhammad Sholeh

Top