Empat Pilar Bangsa untuk Saring Dampak Negatif Globalisasi

Medan, NU Online. Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) H Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, dampak negatif arus globalisasi hanya bisa disaring jika bangsa ini memelihara dan menumbuhkan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Jika bangsa ini tercerabut dari akar budayanya yang terbingkai dalam empat pilar itu, bangsa ini akan tergerus arus globalisasi yang dahsyat,” ujar Lukman Hakim saat menjadi narasumber pada Sosialisasi 4 Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang digelar Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) bekerjasama dengan MPR-RI, di gedung Pusat Bahasa dan Budaya Fakultas Dakwah IAIN Sumatera Utara, Jalan Willem Iskander Medan Estate, Selasa (18/9).

Hadir dalam acara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB PMII A Jabidi Ritonga, Ketua Panitia Ainul Yakin Simatupang, Presiden Mahasiswa IAIN Sumut A Riduan Hasibuan, para Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Sumut, dan Pengurus Cabang (PC) PMII Kota Medan. Sosialisasi yang diikuti 200 kader PMII dari berbagai peguruan tinggi di Kota Medan itu dipandu oleh El-Suhaimi MA.

Lukman mengingatkan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama  komputer dan internet membuat arus asing masuk dengan deras tanpa filter. Nilai-nilai asing itu acapkali bertentangan dengan nilai-nilai yang diwarisi para pendiri bangsa. ”Dengan sebuah HP di tangan, saya sudah bisa mengetahui apapun yang ingin saya ketahui tanpa bisa difilter oleh siapapun. Ini berbahaya, jika kita tak punya benteng yang bernama jati diribangsa. Sebab, kita tidak punya kemampuan mengendalikan masuknya nilai-nilai asing itu. Satu-satunya cara membentengi diri dengan kembali mengenali nilai-nilai yang telah diwariskan para pendahulu kita,” kata politisi PPP ini.

Lalu bagaimana memelihar nasionalisme atau cinta bangsa di tengah era globalisasi? Menurut Lukman Hakim, penafsiran nasionalisme harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Yakni negara dan bangsa yang mampu bersaing dengan negara-negara lain. “Artinya cinta tanah air akan makin melekat ketika kita punya nilai lebih saat disandingkan dengan negara lain. Intinya, kita harus punya nilai tawar yang tinggi, dan ujung-ujungnya adalah kualitas,” tutur Wakil Ketua MPR ini.   

Karena itu, dia mengingatkan mahasiswa sebagai kelompok elit yang hidup di tengah-tengah era kemajuan iptek dan era informasi,  siapa yang tak menguasai informasi akan tergilas oleh zaman.

“Jadi pesan saya, kuasailah media atau alat yang bisa membantu mahasiswa mengakses informasi. Jadi kalau ada mahasiswa yang tak bisa pakai internet, berhenti sajalah jadi mahasiswa. Karena ilmu pengetahuan itu sekarang tidak hanya didapat dari bangku-bangku pendidikan formal, tapi harus  mampu mengakses informasi dari internet dan media sosial lainnya,” kata Lukman.

Tidak mesti mahasiswa punya alat, karena sudah ada warnet dimana-mana. “Yang penting kita harus familiar dan akrab menggunakan internet, karena dengan itu kita bisa mengembangkan wawasan,” ucapnya.


Redaktur: Mukafi Niam
Kontributor: Hamdani Nasution

Selasa, 18/09/2012 19:59

Top