MPR Minta Jangan Main Tuding Konspirasi

Jakarta, Aktual.co —Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Lukman Hakim Saefuddin meminta semua pihak bersatu dalam pemberantasan korupsi dan tetap menahan diri dengan tidak saling menyerang maupun mendiskreditkan pihak lain.

"Tuduhan adanya konspirasi oleh pihak-pihak tertentu, misalnya, tak perlu diekspos ke publik.  karena malah bisa menimbulkan instabilitas nasional.

Kalau memang ada bukti, bawa saja ke proses hukum tanpa timbulkan kegaduhan yang tak perlu. Kalau tidak, ya sebaiknya menahan diri," kata Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin di Jakarta, Sabtu (2/2).

Sebagai catatan, Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta melontarkan pernyataan - apa yang terjadi adalah adanya konspirasi besar yang bertujuan untuk menghancurkan PKS - Hal itu disampaikan terkait penahanan mantan Presiden PKS Lutfhie Hasan Ishaaq atas tuduhan terlibat kasus suap impor daging sapi.

Menurut Lukman komitmen mengerahkan segala daya upaya untuk pemberantasan korupsi di negeri ini haruslah justru yang menyatukan kita, bukan malah berpotensi memecah-belah integrasi.

"Hendaknya setiap kita mampu menahan diri untuk tidak saling menyerang dan mendiskreditkan pihak lain dalam menanggapi kasus-kasus yang ditangani KPK," kata Lukman,

Lukman meminta semua pihak mengikuti dan mencermati prosesnya sampai dengan saatnya pembelaan dan perlawanan itu dilakukan di pengadilan.

Menurut Lukman biarkan hukum melalui proses di pengadilan, nantinya yang akan membuktikan berbagai tuduhan yang beragam itu.

"Sebaiknya hindari memperkeruh suasana dengan melempar tuduhan yang bisa timbulkan fitnah," kata politisi PPP tersebut.

Menurut Lukman, KPK harus terus didukung dalam pemberantasan korupsi terhadap siapapun juga. Karena itu tambahnya institusi KPK harus tetap kita jaga independensi dan imparsialitasnya.

Lukman menegaskan tuduhan tanpa disertai bukti bahwa KPK dijadikan alat pihak-pihak tertentu atau apalagi yang langsung melakukan konspirasi tertentu, hendaknya diakhiri.

Lukman mengatakan saat ini masih terlalu banyak agenda nasional kita ke depan yang lebih membutuhkan perhatian, energi, dan sinergi kita bersama dalam melaksanakannya. (Ant)

Dhia Prekasha Yoedha
2 Feb 2013 15:04:30

Top