Sistem Nomor Urut, Pemilu Balik ke Masa Gelap

f-r-555 416-diskusi-publik-1323667266"Rakyat dirugikan karena tak punya pilihan," kata politisi PPP, Lukman Hakim Saifuddin

VIVAnews - Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan, Lukman Hakim Saifuddin, mencermati wacana tentang penerapan kembali sistem proporsional tertutup untuk pemilu 2014. Ini berarti calon legislatif yang terpilih berdasarkan nomor urut.

"Bila Pemilu 2014 kembali ke sistem proporsional tertutup, itu artinya kita kembali ke masa kegelapan. Gelap bagi masyarakat, juga gelap bagi parpol itu sendiri," ujar Lukman dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, Kamis 15 Maret 2012.

Menurut Lukman, sistem proporsional dengan daftar calon terbuka (open-list) yang sudah dipraktekkan dalam beberapa Pemilu terakhir merupakan kombinasi paling moderat dari berbagai sistem yang ada. Ini pun dianggap sesuai dengan realitas dunia politik.

Proporsional terbuka, Lukman menambahkan, telah mengakomodasi dua tuntutan sekaligus, yaitu: implementasi kedaulatan rakyat dan efektivitas keterwakilan pada ketersebaran populasi yang tak merata di wilayah nusantara yang amat luas.

"Sistem proporsional terbuka merupakan resultante dari pembahasan yang amat panjang menjelang Pemilu 2004 dan 2009," kata Lukman.

Oleh karena itu, menurut Lukman, sebaiknya pemilu 2014 tetap menggunakan sistem proporsional terbuka.

"Sistem itu sudah mapan kita praktekkan. Jangan mudah diubah-ubah hanya karena pikiran sesaat," kata Lukman.

Diberi Keleluasaan

Pada proporsional terbuka, tambah Lukman, parpol diberi keleluasaan untuk mengajukan daftar kader-kader terbaiknya, namun rakyatlah yang pada akhirnya menentukan siapa di antara mereka untuk menjadi wakilnya di parlemen.

Adapun pada proporsional tertutup, menurut Lukman, rakyat semacam "dipaksa" untuk menerima kandidat dengan nomor urut teratas saja dari yang diajukan parpol sebagai wakilnya.

"Rakyat dirugikan karena tak punya pilihan, sementara parpol juga dirugikan karena hanya kader yang bernomor urut 1 dan 2 saja yang akan berkampanye. Bila yang terakhir ini yang akan terjadi, masa kegelapan politik nasional kita serasa di depan mata," kata Lukman. (ren)
Jum'at, 16 Maret 2012, 04:56 WIB. Bayu Galih, Mohammad Adam

Top