Bosnia-Herzegovina di Hati Rakyat Indonesia

MPR mendorong peningkatan kerja sama Indonesia-Bosnia dan Herzegovina. Kedekatan hati rakyat Indonesia kepada bangsa Bosnia dan Herzegovina menjadi modal utama dalam membangun kerjasama. Negara pecahan Yugoslavia itu menunggu investor dari Indonesia untuk menanamkan investasinya.

“Good Morning”, “Assalamualaikum,” sapa Fuad Sabeta, Duta Besar Bosnia dan Herzegovina, saat memasuki

Ruang Kerja Ketua MPR, Taufiq Kiemas, di Lt. 9, Gedung Nusantara III, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, 20 Maret 2012. Sambil mengucapkan salam, Fuad Sabeta menjabat erat Taufiq Kiemas dan Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin.

Kedatangan Fuad Sabeta, selain memperkenalkan diri sebagai duta besar yang baru, ia baru dua bulan menjabat duta besar di Indonesia, juga sebagai upaya untuk meningkatkan hubungan kedua negara, baik antarparlemen, antarpenerintah, maupun antarrakyat.

“Saya senang sekali bisa bertemu dengan yang Mulia,” ujarnya. Ia merasa bangga dengan pertemuan itu sebab di Eropa bertemu dengan ketua parlemen merupakan sesuatu yang sulit. Bagi Fuad Sabeta, hubungan Indonesia-Bosnia dan Herzegovina sudah sangat akrab. Apalagi saat negaranya masih berada di bawah Yugoslavia dengan Presidennya, Jozip Bros Tito. Fuad Sabeta ingat pada masa Bosnia-Herzegovina memperjuangkan kemerdekaan bangsanya, Indonesia dengan sepenuh hati mendukung perjuangan itu.

Meski hubungan kedua negara sudah akrab, namun dirasa kerja sama perlu ditingkatkan. Fuad Sabeta mengingingkan agar kerja sama di bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan lebih ditingkatkan. “Saya berharap pejabat, pengusaha, dan rakyat Indonesia bisa berkunjung ke Bosnia dan Herzegovina, begitu sebaliknya,” ujarnya. Peningkatan kerja sama kedua negara merupakan suatu yang penting, sebab diakui Fuad Sabeta, nilai perdagangan yang dijalin masih rendah, hanya US$ 10.000.

Mendapat pemaparan yang demikian, Taufiq Kiemas menceritakan bahwa pada tahun 2002, ia mendampingi Presiden Megawati berkunjung ke Bosnia dan Herzegovina. “Saya berharap Bosnia dan Herzegovina menjadi negara yang maju,” ujarnya. Ia teringat ketika Presiden Jozip Bros Tito berkuasa di Yugoslavia, pabrik-pabrik industri dibangun di wilayah-wilayah negara itu. Pun demikian Jozip Bros Tito banyak mendirikan industri di Bosnia dan Herzegovina.

Dalam kesempatan itu, Lukman Hakim Saifuddin mengucapkan selamat bekerja atas tugas yang diemban Fuad Sabeta. Tugas itu menurutnya merupakan ujung tombak dalam meningkatkan hubungan kedua negara. Dikatakan oleh politisi PPP itu, hubungan kedua negara sudah seperti saudara. Masa lalu yang penuh derita menjadi rasa empati dan simpati rakyat Indonesia kepada rakyat Bosnia dan Herzegovina. Masa lalu itulah yang menyebabkan Bosnia dan Herzegovina ada di hati rakyat Indonesia. “Kedekatan hati inilah yang menjadi modal utama dalam mengembangkan kerja sama di bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kerja sama, khusunya dalam perdagangan, Lukman Hakim Saifuddin mendorong dan membuka pintu selembar-lembarnya bagi pemerintah dan pengusaha Bosnia dan Herzegovina untuk menanamkan investasinya di Indonesia, begitu pula sebaliknya. “MPR sepenuhnya mendukung realisasi kerja sama kedua negara,” paparnya. Diakui, di DPR rancangan kerja sama hubungan kedua negara sudah ada, dan tinggal merealisasikan saja. Untuk itulah Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, di sinilah pentingnya peran duta besar sebagai ujung tombak dalam mengambil peran dalam merealisasikan kesepakatan-kesepakatan.

Keinginan Lukman Hakim Saifuddin agar pengusaha dan pemerintah kedua negara untuk saling menanamkan investasinya, disambut baik oleh Fuad Sabeta. Diungkapkan bahwa saat ini negaranya belum sepenuhnya menjadi anggota Uni Eropa. Meski demikian, dengan menanamkan investasinya di Bosnia dan Herzegovina, pasar investasinya sangat potensial. Pasarnya mampu menjangkau negara-negara Uni Eropa.

Dipaparkan, industri yang berkembang saat ini di negara yang memiliki luas 87, 021 kilometer persegi adalah industri alutsista, pertambangan, dan pabrik besi. “Semua itu disebut emas hitam,” ujarnya. Dulu semasa perang Bosnia dan Herzegovina-Serbia pecah, industri-industri yang ada terbengkalai. Namun saat ini, di mana kondisi keamanan semakin membaik, industri-industri emas hitam itu berkembang kembali. “Sekarang banyak orang-orang asing bekerja di negara kami,” paparnya.
MPR RI, Selasa, 20/03/2012 11:58

Top