Elite Tak Peduli dengan Pancasila

VIVAnews - Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat gencar menyosialisasikan empat pilar bangsa: Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 45 ke seluruh lapisan masyarakat. Sejumlah penyuluhan digelar ke daerah-daerah, termasuk ke Bangka Belitung. Namun, menurut Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin, kenyataannya justru elite penyelenggara negara kerap terang-terangan mempertontonkan pelanggaran terhadap nilai-nilai itu. Korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja terjadi.

"Memang sosialisasi empat pilar tujuannya juga ke elite-elite," kata Lukman di sela kunjungan kerja ke Bangka Belitung, Sabtu 12 November 2011.

Saat sosialisasi di Bangka Belitung, Lukman menemukan sendiri fenomena ketidakpedulian itu. Sosialisasi hari pertama dirancang untuk unsur musyawarah pimpinan daerah yakni Bupati, kejaksaan, kepolisian serta jajarannya. Sosialisasi kari kedua untuk para guru pengampu pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

"Yang selalu hidup itu hari kedua karena guru-guru, dia punya kepedulian.  Tapi yang hari pertama enggak penuh yang datang, banyak yang diwakilkan. Tampaknya, elite kita tak cukup punya concern," kata Lukman.

Menurut Lukman, tugas MPR menyosialisasikan itu tidak lengkap. Sebab, tidak ada kewenangan memaksa. "Itu kenapa perlu ada Badan Khusus agar libatkan kalangan intinya elite bagaimana kebijakan penyelenggara negara tak bertentangan dengan empat pilar. Hambatan MPR tak punya alat 'memaksa' lembaga ikut proses sosialisasi ini," katanya.

Lukman mengungkapkan wacana pembentukan Badan Khusus itu sudah disampaikan pada Presiden. Menurut dia, setelah Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila dihapuskan tak ada lembaga satupun yang melakukan kerja seperti itu. Kini, pembentukannya sedang dimatangkan.

"Kami sudah bertemu dengan presiden dan semua setuju perlunya badan khusus ini tak hanya sebagai pelaksana sosialisasi tapi juga pengkajian. Pancasila tak mungkin diajar kepada anak dengan metode seperti dulu, karena zaman berubah. Bagaimana mentranformasikan Pancasila ke dalam bahasa gaul misalnya. Pada pikiran kami harus ada badan khusus bagaimana empat pilar berada dalam ingatan segar. Jadi itu background perlunya ada badan khusus," kata Lukman.

 

 

Top