Saya Merasa Tertampar

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Lukman Hakim Saifuddin merasa 'tertampar' oleh pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Busyro Muqoddas yang mengkritik politisi.

"Terus terang, saya pribadi merasa 'tertampar' dengan pernyataan Busyro.

Saya wajib mawas diri karena belum hidup sederhana seperti yang diharapkannya," kata Lukman kepada Tempo di Jakarta, Selasa, 15 November 2011.

Lukman mengakui jika kritikan dari orang nomor satu di KPK itu mengundang pro kontra dari para politisi. Tak sedikit politisi yang  merasa tersinggung dengan pernyataan Busyro tersebut. Namun, lanjut Lukman, sebagai penyelenggara negara, pejabat publik seharusnya bisa berjiwa besar dan menerima kritikan setajam apapun.

"Harusnya pejabat publik mampu memilah mana yang esensial dan yang merupakan bahasa ungkapan, "katanya.

Kamis lalu, dalam pidato nya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Busyro mengungkapkan bahwa terdapat politikus yang dasamuka alias gampang mengubah sifat. Bahkan dia menganggap pola hidup mereka pragmatis dan hedonis.

Pernyatan Busyro tersebut  mengundang reaksi para politisi. Dewan Perwakilan Rakyat meminta Busyro untuk lebih fokus mengurusi KPK dibanding mengkritik perilaku wakil rakyat.

Menurut Lukman, Busyro hanya menginginkan pejabat publik memiliki kepekaan sosial terhadap kondisi lingkungannya. Dia meminta agar politisi memahami ensensi kritikan tersebut.

"Jangan malah dipolitisasi dengan menebak-nebak motif di balik pernyataan Busyro,"ujarnya.

Ia pun merasa sedih dengan munculnya respons negatif pejabat terhadap pernyataan Buysro. Ia mencontohkan adanya pejabat yang tak ingin diuksik gaya hidup pribadinya.

"Bukankah ruang privasi pejabat publik kian sempit, karena publik berhak mengawasi semua tindaktanduknya?,"katanya. TRI SUHARMAN/TEMPO.CO

 

 

 

Top