Ini Menteri yang Kinerjanya Dianggap Paling Memuaskan

Jakarta - Lembaga Survei Indo Barometer menggelar sigi kepuasan publik atas kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Selain kinerja Presiden dan Wakil Presiden, survei juga dilakukan untuk mengukur tingkat kepuasan publik atas kerja para menteri.

Hasil sigi Indo Barometer yang dipaparkan hari ini menunjukkan sejumlah menteri dianggap memiliki kinerja paling memuaskan. Tingkat kepuasan publik pada menteri tertinggi masih di Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan 71,9 persen.

Di urutan berikutnya ada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan (54,2%), Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (47,8%), Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin (44,4%), Menteri Kesehatan Nila F Moeloek (37,8%) dan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Rizal Ramli (37,3%).

Adapun tingkat kepuasan publik terendah pada Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution (15%) dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong (15,9%).

Secara umum tingkat kepuasan publik terhadap kinerja para menteri sebesar 37,1 persen dan yang tidak puas 46,7 persen. "Jika dibandingkan survei 6 bulan sebelumnya, tingkat kepuasan publik terhadap kerja para menteri semakin turun dari 46,8 persen ke 37,1 persen, atau penurunan sebesar 9,7 persen," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari saat memaparkan hasil survei lembaganya di Hotel Century Park, Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2015).

Survei Indo Barometer tersebut dilakukan pada 14-22 September 2015 di 34 provinsi dengan jumlah responden 1.200 orang menggunakan metode multistage random sampling dengan margin error 3 persen.


(erd/nrl)


Kamis 08 Oct 2015, 18:16 WIB | Ahmad Masaul Khoiri - detikNews

Identifikasi Korban Mina, Menteri Lukman Libatkan Tim DVI

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri akan dilibatkan dalam proses identifikasi jenazah jamaah haji korban peristiwa Mina. Tim DVI ini sudah bertolak dari tanah air untuk bergabung dengan petugas Arab Saudi.

“Saya dikontak oleh Menlu dan Wamenlu bahwa Pemrintah Arab Saudi sesuai dengan yang kami ajukan dan mintakan, mereka sudah menyetujui untuk bisa melibatkan DVI. Mereka bisa menjadi bagian dari petugas Saudi Arabia,” kata Lukman dalam rilisnya yang diterima Tempo, Jumat 2 Oktober 2015.

Ikut hadir mendampingi Menteri Lukman dalam tinjauan ini, Inspektur Jenderal Kementerian Agama M Jasin, Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Janis, Kepala Pusat Informasi dan Humas Rudi Subiyantoro, serta Kepala Daerah Kerja Airport Jeddah – Madinah, Nurul Badruttamam.

Lukman berharap langkah ini akan mempercepat proses identifikasi dan verifikasi sejumlah jenazah yang diduga adalah jemaah haji Indonesia yang sampai sekarang perlu untuk diidentifikasi. Menurut Lukman ada 11 orang tim DVI Mabes Polri yang telah bertolak dari Indonesia pada Kamis 1 Oktober 2015 dan diharapkan Jumat 2 Oktober 2015 seluruhnya sudah tiba di Jeddah untuk segera bergabung dengan para petugas Saudi Arabia. Bersama-sama petugas Arab Saudi, mereka akan melakukan proses identifikasi jenazah jamaah haji khususnya yang diduga berasal dari Indonesia.

Hingga Kamis dini hari waktu Arab Saudi, sebanyak 59 jamaah haji Indonesia termasuk empat mukimin sudah teridentifikasi sebagai korban peristiwa Mina. Sementara itu sebanyak 74 orang jamaah haji Indonesia belum kembali ke pemondokan.

Proses pencarian, kata Lukman, masih terus dilakukan dengan melibatkan tiga tim. Tim pertama menelusuri bersama kelompok terbang yang melaporkan kehilangan. Tim kedua menelusuri rumah sakit yang ada di Arab Saudi. Tim selanjutnya melakukan proses identifikasi di pemulasaraan jenazah Al Muaishim.

“Mudah-mudahan jumlahnya tidak lagi bertambah dan ini bisa segera cepat selesai,” kata Lukman.

DANANG FIRMANTO | JUM'AT, 02 OKTOBER 2015 | 14:16 WIB

Menag: Saya Bersyukur PPIH Bekerja dengan Penuh Komitmen

RMOL. Musim haji tahun ini adalah kali kedua bagi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjadi Amirul Hajj alias pemimpin rombongan haji. Namun, dibanding dengan pengalamannya tahun lalu, kali ini Lukman lebih sibuk dan lebih repot.

‎Musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram dan tragedi Mina membuat Lukman harus bekerja ekstra. Sampai-sampai Lukman harus memunda kepulangannya ke Tanah Air selama lima hari untuk mengurus korban tragedi Mina.

‎"Semua dijadwalkan saya kembali bersama rombongan Amirul Hajj pada tanggal 28 September. Tapi, dengan adanya dua peristiwa yang menyita perhatian dan pikiran kita bersama, saya menunda kepulangan. Saya baru pulang kemarin (Sabtu, 3/10)," tutur Lukman.

‎Bagaimana sibuk dan ropotnya Lukman mengurus pelaksanaan haji tahun ini? Berikut penuturan Menteri asal PPP itu kepada Rakyat Merdeka, Minggu (4/10) malam;‎

A‎pa perbedaan mengurus pelaksaan haji tahun lalu dengan tahun ini?

‎Tahun lalu adalah kali pertama saja menjadi Amirul Hajj. Waktu itu saya belum punya pengalaman. Sedangkan tahun ini saya sudah punya pengalaman. Untuk pelaksanaan secara umum relatif sama. Tapi, karena ada dua peristiwa yang sangat menyita perhatian dan pikiran kita bersama, pelaksanaan menjadi beda. Hari yang saya gunakan di sana juga menjadi lebih lama.

‎S‎eperti apa kerepotan yang Anda rasakan?

‎Akibat peristiwa itu, banyak sekali rapat dadakan dan koordinasi dengan berbagai pihak, baik dengan pihak pemerintah Arab Saudi, pihak rumah sakit, dan lain-lain.

Saya bersyukur sejak awal saya menginap di Wisma Haji di Daker (Daerah Kerja) di Mekah. Hal ini sangat membantu saya, sehingga bisa kapan saja melakukan rapat dengan PPIH (Panitia Pelaksana Ibadah Haji).

Saya tinggal di lantai 2 sedangkan tempat rapat di lantai 1.‎ Hal ini sangat memudahkan. Begitu ada hal mendadak, kami bisa langsung menggelar rapat, tanpa memerlukan kendaraan dan tanpa berpidah lokasi.‎

Memangnya banyak rapat yang harus dilakukan?‎

Jumlahnya tak terhitung. Tiap bidang harus ada koordinasi. Apalagi dengan adanya dua peristiwa besar itu.

‎Tapi, sebenarnya bukan mengenai tragedi Mina dan jatuhnya crane saja. Aktivitas lain juga harus kita perhatikan. Misalnya, di awal minggu lalu, kita juga harus memikirkan kloter 1 yang mulai bertolak dari Mekah ke Jeddah untuk kembali ke Tanah Air. Kemudian ada kloter lain yang harus siap-siap bertolak dari Mekah ke Madinah. Semua ini kan harus disediakan hotelnya, kendaraannya, dan juga keteringnya.‎

Khusus untuk tragedi Mina dan jatuhnya crane bagaimana?‎

Sejak kejadian, saya langsung mengintruksikan kepada semua petugas haji agar publik bisa mendapatkan informasi setiap saat. Makanya, minimal setiap 12 jam sekali harus ada konferensi pers mengenai informasi terkini. Dengan begitu, masyarakat bisa mengikuti segala perkembangan yang terjadi dalam penyelenggaran haji.

‎Anda selalu melapor ke Presiden?

‎Tentunya. Sebelum konferensi pers, sebagai menteri saya menyampaikan laporan kepada Presiden melalui staf. Minimal dua kali sehari saya lapor. Terkadang, secara khusus Presiden yang proaktif menelpon langsung ke saya untuk menanyai perkembangan. Seingat saya, Presiden nelpon langsung sebanyak empat kali.‎

Dengan tragedi Mina dan jatuhnya crane, apa jam kerja Anda jadi tambah panjang?

‎Sejak awal saya sudah meminta semua PPIH harus bisa bekerja tanpa terpaku jam kerja. Dalam kondisi normal pun harus bisa begitu. Sebab, mengurusi haji itu tidak terpaku jam kerja. Setiap saat kalau dibutuhkan kita harus siap. Jam 12 malam kalau perlu rapat, kami rapat. Juga termasuk melakukan indentifikasi korban, melacak jamaah yang belum kembali, dan mengecek ke setiap rumah sakit. Apalagi, di Tanah Suci ini budayanya berbeda. Tradisi masyarakat di sana bekerja pada malah hari.

‎Tapi saya sangat bersyukur, semua PPIH bekerja dengan komitmen tinggi. Tidak hanya sepenuh hati, tapi juga dengan cinta. Sehingga tidak pernah ada keluhan dan merasa terbebani. Saya amat terbantu dengan kinerja mereka.‎[***]

Senin, 05 Oktober 2015 , 01:56:00 WIB | Laporan: Ujang Sunda

 

Menteri Agama Sambangi Pesantren Para Ulama Indonesia di Mekkah

MEKKAH - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri haul ke-22 Syekh Ismail Zein di Pesantren Riyadul Jannah, Ruseifah, Mekkah. Syekh Ismail merupakan ulama terkemuka di Mekkah yang menjadi guru dari sejumlah ulama dan kiai di Indonesia.

“Syekh Ismail Zein adalah ulama besar di Mekkah yang menjadi tempat belajar para kiai dari Indonesia. Selaku pemerintah, saya menghaturkan terima kasih karena tempat ini telah memberikan banyak manfaat,” terang Lukman, Selasa 29 September waktu Arab Saudi.

Haul ke-22 Syekh Ismail diperingati dengan sederhana di dalam Masjid Pesantren Riyadhul Jannah. Selain para santri yang kebanyakan berasal dari Indonesia dan jamaah haji Indonesia, hadir juga salah salah satu ulama Turki, Syekh Mahmud.

Seperti di Indonesia, peringatan haul diisi dengan pembacaan Surat Yasin, Al Waqiah, Al Mulk, dan tahlil. Perjuangan Syekh Ismail dilanjutkan oleh puteranya, Syekh Muhammad bin Ismasil Zein.

Lukman menjelaskan, sejak puluhan tahun yang lalu banyak ulama Indonesia yang belajar di Pesantren Riyadhul Jannah. Karenanya, pemikiran dan ajaran Syekh Ismail banyak mewarnai pandangan ulama Indonesia. Sehingga bermanfaat dalam menjaga Islam di Indonesai agar tetap rahmatan lil alamin, wasathiyyah, tasammuh, tawazun, dan tawassuth.

“Semua itu sesungguhnya karena pengaruh jasa dari banyak guru yang ada di Tanah Suci dan salah satunya adalah yang ada di majelis ini,” tandas Menag.

Selaku pemerintah, Lukman menyampaikan terima kasih kepada Syekh Muhammad yang mampu melanjutkan, tidak hanya memelihara dan menjaga, tapi juga mengembangkan pesantren ini sehingga para pelajar Indonesia bisa belajar dan memanfaatkan ilmunya di Tanah Air.

Syekh Muhammad dalam sambutannya juga menghaturkan terima kasih atas kehadiran Menteri Agama Lukman dan para jamaah haji lainnya. Menurutnya, kehadiran mereka tidak hanya sebagai saudara sesama Muslim, tetapi juga sebagai tamu-tamu Allah. “Barangsiapa menghormati tamu Allah maka akan dihormati Allah,” terangnya.

Syekh Muhammad menambahkan, Pesantren Riyadhul Jannah ini didirikan sejak sekitar lima puluh tahun yang lalu oleh ayahnya, Syekh Ismail Zein. “Alhamdulilah sampai sekarang masih berjalan,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Menteri Agama memberikan kenang-kenangan kepada Syekh Muhammad berupa sarung tenun khas Indonesia. “Ini sarung khas Indonesia dari saya pribadi semoga menjadikan Syekh Muhammad selalu terkenang dengan Indonesia,” kata Menag sembari menyerahkan bingkisan sarung kepada tuan rumah. Sementara, Syekh Muhammad juga memberikan kenang-kenangan kepada Menag berupa Kitab Suci Alquran.

Seusai pengajian, diadakan makan bersama dengan menu Nasi Kabsah. Tampak Menag dan Syekh Muhammad berbaur bersama para santri dan undangan lainnya, makan bersama sajian nasi dan daging kambing di beberapa penampan besar.

(hyk)

 

Sunu Hastoro | Rabu, 30 September 2015 − 20:17 WIB

Surati Menteri Haji Saudi, Menag Minta Tiga Hal Ini

Jeddah (Pinmas) —- Musim haji i1436H/2015M belum usai.  Sementara sebagian jamaah haji Indonesia dalam proses pemulangan menuju Tanah Air, sebagian lainnya sedang dalam persiapan untuk diberangkatkan dari Makkah ke Madinah untuk pelaksanaan proses Arbain.

Meski demikian, Kementerian Agama melakukan langkah cepat guna perbaikan pada penyelenggaraan haji mendatang. Hal ini terungkap dari surat Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kepada Menteri Haji Arab Saudi yang meminta agar Pemerintah Saudi bisa segera melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas layanan di Arafah dan Mina.

“Ada dua atau tiga hal yang akan kita ikhtiarkan secara serius. Pertama adalah kondisi arafah,” terang Menag usai meninjau penimbangan barang bagasi jamaah haji Indonesia di Madinatul Hujjaj, Jeddah, Kamis (01/10).

Menag mengaku sedih  ketika pada malam hari tanggal 8 Dzulhijjah dirinya mendapati sejumlah  tenda jamaah yang roboh karena diterpa angin. Padahal menurutnya angin tersebut  tidak sekuat dengan angin yang merobohkan crane di Masjidil Haram sehingga tidak bisa dibayangkan kalau kekuatan angin itu sama.

Kejadian itu tidak hanya menyebabkan tenda roboh, tetapi juga listrik padam sehingga selain penerangan juga menyebabkan water cooler di tenda Arafah tidak berfungsi.  Hal ini juga mengganggu pos kesehatan Arafah karena tidak bisa mengoperasionalkan alat yang membutuhkan listrik dan akhirnya berdampak kepada jamaah yang sakit.

“Saya sudah mengirimkan surat resmi kepada Menteri Haji agar konsidi Arafah bisa diperbaiki dengan cara membuat tenda-tenda yang permanen di Arafah. Kalau di Mina bisa tenda permanen, di Arafah seharusnya juga bisa,” tegas Menag.

“Juga dibangun pembangkit listrik berkekuatan besar sehingga tidak hanya mengandalkan generator yang terbatas, tapi pembangkit listrik permanen yang betul-betul bisa mensuplai berapapun kebutuhan listrik di Arafah,” tambahnya.

Hal kedua yang diusulkan Menag adalah terkait perbaikan Mina. Menag menyoroti jarak Mina Jadid yang terlalu jauh dan keberadaanya yang  dari sisi syari juga masih problematik, apakah sah sebagai tempat menginap atau tidak. “Saya sudah bersurat ke Menteri Haji agar tenda-tenda di Mina bisa ditingkatkan. Kalau Jamarat saja bisa ditingkat, semestinya tenda di Mina juga bisa ditingkat sehingga seluruhnya bisa berada di Mina dan jarak ke Jamarat juga tidak terlalu jauh. Waktu melontar jumrah juga bisa diatur lebih ketat,” terang Menag.

Selain dua hal yang diajukan kepada Menteri Haji Arab Saudi, Menag juga berinisiatif untuk memberlakukan penggunaan chip yang ditempel pada gelang idenitas jamaah. Chip yang nantinya bisa dideteksi melalui GPRS ini penting untuk mengantisipasi persoalan jamaah hilang yang tidak diketahui keberadaannya.

“Ide ini sebenarnya sudah muncul sejak kemarin, tapi tidak cukup waktu untuk merealisasikan gagasan ini. Karenanya sejak sekarang kita akan coba pikirkan sehingga pengalaman yang cukup pahit bahwa sampai saat ini masih ada jamaah yang belum diketahui keberadaannya di mana itu bisa diatasi dengan hal itu,” kata Menag.

Sampai dengan saat ini, sedikitnya masih ada 74 jamaah haji Indonesia yang belum kembali ke hotelnya untuk bergabung bersama anggota kloter lainnya. Banyak alasan tentu kenapa orang belum kembali, dan itu tidak selalu berarti telah mati. Nyatanya, ada juga jamaah haji Indonesia yang setelah lima hari  hilang tanpa kabar akhirnya bisa kembali.

“Kita akan terus mencari. Kalaulah sampai melewati tanggal 26 Oktober kita tentu akan terus melakukan pencarian itu. Karena menjadi kewajiban pemerintah terhadap warganya di luar negeri untuk diketahui keberadaanya,” kata Menag. (mkd/mch/mkd)

Jumat, 2 Oktober 2015, 06:17

Menag: masih ada lima kontainer korban Mina

Mekkah (ANTARA News) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan masih ada lima kontainer berisi jenazah korban peristiwa Mina yang belum diidentifikasi di pemulasaran mayat Al Muashim, Mekkah, sehingga tim Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan kembali ke lokasi tersebut sore ini.

"Semula kami melihat ada empat kontainer, ternyata ada lima kontainer, yang setiap kontainernya berisi puluhan jenazah," kata Lukman di Mekkah, Arab Saudi, Senin, usai memaparkan langkah pemerintah cq Kementerian Agama selaku PPIH dalam mengidentifikasi jemaah Indonesia yang menjadi korban peristiwa Mina.

Ia mengatakan sampai pukul 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS) pihaknya telah mengidentifikasi 41 jemaah Indonesia yang menjadi korban tewas peristiwa Mina dan empat korban dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah bermukim di Arab Saudi.

Dengan demikian sementara ini ada 45 warga negara Indonesia yang menjadi korban pada insiden berdesak-desakan dan terinjak-injak di Jalan Arab 204, Mina, Kamis pagi (24/9) pukul 07.40 WAS.

PPIH, lanjut dia, telah melakukan tiga kali identifikasi jemaah Indonesia yang menjadi korban peristiwa Mina tersebut, yaitu pertama pada tanggal 25 September 2015, sehari setelah peristiwa, dan menemukan dua jemaah Indonesia yang wafat dari 500 foto yang dirilis Pemerintah Arab Saudi sebagai korban Mina.

"Pada 25 september pukul 23.00 WAS itulah baru pertama kali tim kami baru dapat akses ke pemulasaran mayat, Al -Muashim," ujar Lukman yang mengaku kecewa walau bisa memaklumi langkah Pemerintah Arab Saudi yang lamban memberi akses kepada pemerintah yang warganya menjadi korban untuk melakukan identifikasi.

Kemudian pada identifikasi kedua dilakukan pada Sabtu, 26 September 2015, tim PPIH menemukan 12 jemaah Indonesia menjadi korban pada peristiwa Mina dari foto yang dirilis sebanyak 350 jenazah.

Identifikasi ketiga yang dilakukan pada Minggu 27 September 2015 sebanyak dua kali yaitu pukul 02.00 WAS dan 14.00 WAS, pihaknya menemukan 14 jemaah Indonesia, dan terakhir pada Senin pukul 02.00 WAS, pihaknya menemukan tujuh jemaah dari 257 foto jenazah yang dirilis Pemerintah Arab Saudi di pemulasan mayat tersebut.

"Kami masih akan terus mencari jemaah Indonesia yang menjadi korban, mengingat masih ada 82 jemaah belum kembali ke pemondokan masing-masing sejak peristiwa Mina," kata Lukman. Apalagi masih ada lima kontainer berisi jenazah yang harus diidentifikasi.

Ia bahkan menegaskan pencarian akan terus dilakukan sampai semua jemaah Indonesia yang belum kembali ditemukan. "Bahkan walau sudah melampaui tanggal 26 Oktober, saat penerbangan terakhir pemulangan jemaah ke Tanah Air, kami masih akan terus melakukan pencarian," ujar Lukman.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Senin, 28 September 2015 20:33 WIB | Pewarta: Risbiani Fardaniah

Top