Ini 5 Isu Penting soal Agama yang Jadi Perhatian Pemerintah

BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, ada lima isu penting di bidang agama yang saat ini jadi perhatian pemerintah. Isu-isu ini penting karena menyangkut kelangsungan hajat hidup orang banyak.

"Pertama tentang posisi penganut agama di luar agama yang diakui pemerintah," ujar Lukman di Balikpapan, Minggu (24/11/2014), seperti dikutip Antara.

Para penganut agama selain Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu, berharap keyakinan mereka juga bisa disebutkan di dalam kartu tanda penduduk (KTP), akta kelahiran, buku nikah, dan dokumen lain yang mencantumkan kolom agama.

Mereka juga ingin praktik-praktik ritualnya mendapat tempat sewajarnya di tengah masyarakat. (Baca juga: Pakar Islam Dunia Bahas Isu-isu Multikultural di Indonesia)

Kedua, adalah pendirian rumah ibadah dan tempat ibadah. Menurut Lukman, sampai hari ini pendirian tempat ibadah selalu memiliki potensi konflik, baik di kalangan para pengikut sesama agama maupun antarumat beragama.

Hingga tahun 1980-an misalnya, masyarakat yang berbeda afiliasi organisasi keagamaan saja bisa berujung pada pembangunan tempat ibadah yang berbeda walaupun mereka tinggal di lingkungan yang sama.

Ketiga, Menteri Agama juga melihat banyaknya muncul gerakan keagamaan baru, yang semakin lama semakin menunjukkan grafik peningkatan seiring dengan semakin terbukanya masyarakat karena informasi global.

"Keempat kekerasan antarumat beragama, terutama terhadap kelompok minoritas," ucap politisi PPP itu.

Lukman menambahkan, sebutan mayoritas dan minoritas tidak hanya berdasar wilayah geografis tertentu, tapi bisa hingga dalam ruang lingkup organisasi atau kelompok tertentu. Seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan yang pemiliknya atau mayoritas karyawan lainnya beragama berbeda, juga bisa rawan mendapatkan perlakuan kekerasan, baik secara fisik maupun psikis.

Hal kelima, tambah Lukman, adalah penafsiran keagamaan yang sempit yang kemudian mengancam kelompok agama yang memiliki tafsir berbeda. Penafsiran sempit ini bisa mengancam toleransi, malah sampai pada aksi kekerasan, baik kepada antarumat beragama, maupun antara sesama penganut agama yang sama.

Ia mencontohkan, ada kelompok yang memahami jihad sebagai perang terhadap musuh-musuh yang memiliki keyakinan berbeda atau yang mendukung musuh berkeyakinan berbeda itu.

"Padahal, berperang di jalan Allah, hanya satu hal dari jihad. Setiap usaha yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah adalah jihad," ucap Lukman.

Sandro Gatra | Senin, 24 November 2014 | 09:30 WIB

Lulusan Madrasah Mampu Hadapi Globalisasi

Batam - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menilai kualitas yang dimiliki lulusan Madrasah Aliyah akan mampu bersaing pada era globalisasi seperti lulusan lembaga pendidikan lain.

"Kualitas lulusan Madrasah Aliyah sudah sangat baik. Mereka akan mampu menghadapi era globalisasi," kata dia usai meletakkan batu pertama pembangunan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) di Batam, Sabtu (15/11).

Ia mengatakan, kondisi pendidikan di lembaga pendidikan berbasis agama khususnya madrasah aliyah sudah berubah dan mengalami kemajuan.

"Mereka terbukti bisa menguasai ilmu pengetahuan seperti yang diajarkan pada lembaga pendidikan lain. Bahkan pada sejumlah kegiatan mengungguli siswa-siswi sekolah umum. Selain itu juga memiliki pemahaman agama yang baik," katanya.

Lukman mengakui bahwa dulu pendidikan di madrasah terkesan terbelakang dan statis jika dibanding lembaga pendidikan umum.

Namun keluarnya Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sudah merubah kesan keterbelakangan sekolah madrasah.

"Sejauh itu semua sudah diberikan kesamaan. Sehingga madrasah mampu meningkatkan kualitas dan tidak lagi terbelakang," kata dia.

Lukman mengatakan terus akan meningkatkan sekolah negeri berbasis agama agar selain bisa menguasai ilmu pengetahuan, juga ada nilai-nilai ketaqwaan dan keimanan pada generasi muda Indonesia.

MAN Insan Cendekia adalah sekolah yang didirikan oleh Presiden RI Ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie melalui BPPT yang menerapkan prinsip keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan iman dan taqwa.

Sekolah yang sama, sebelumnya juga sudah didirikan di Serpong Tangerang, Gorontalo, Jambi, Riau, Pekalongan, Jawa Tengah dan Aceh.

Kegiatan peletakan batu pertama sekolah tersebut juga dihadiri sejumlah petinggi Kementerian Agama, Gubernur Kepri, dan Wali Kota Batam.

Penulis: /FQ | Sumber:Antara

Minggu, 16 November 2014 | 02:32

Beri Ruang Bagi Akademisi, AICIS XIV Resmi Dibuka

REPUBLIKA.CO.ID, BALIKPAPAN -- Menteri agama Lukman Hakim Saifuddin membuka secara resmi Annual International Conference On Islamic Studies (AICIS) ke XIV di Balikpapan, Kalimantan Timur. AICIS tahun ini mengangkat tema Merespon Tantangan Masyarakat Multikultural: Kontribusi Kajian Islam Indonesia.

Ia mengatakan, diangkatnya isu multikultularism dalam tema seminar kali ini dikarenakan kehidupan global dan peradaban dunia harus memiliki makna menyeluruh terkait mulkultural.

"Saya menyambut gembira dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas penyelenggaran AICIS sebagai pertemuan ilmiah berskala internasional bagi para akademisi dan cendekiawan.

Indonesia punya pengalaman panjang bagaimana multikultukarisme hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Jadi kesadaran untuk bagaimana hidup bersama-sama di tengah perbedaan yang ada di hampir semua sektor kehidupan," ujar Lukman Hakim Saifuddin kepada Republika, Jumat (21/11).

Ia menjelaskan, dinamika masyarakat Indonesia di mata global dengan segala permasalahannya tidak menapikan peran para ilmuwan dan cendikiawan muslim sebagai pembawa visi Islam dalam mencerahkan peradaban.

Menurutnya, studi Islam yang dikembangkan perguruan tinggi Islam telah memberi peran yang besar dalam membentuk wajah Islam di indonesia. Sehingga diperlukan Kontribusi dan peran strategis lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Kemenag dalam upaya menciptakan pemahaman agama yang rahmamatan Lil Alamin.

Sementara itu, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengatakan AICIS merupakan acara tahunan yang memberi ruang kepada para intelektual dan akademisi untuk melakukan aktualisasi akademik. Para akademisi yang mengajukan pendaftaran makalah harus melewati beberapa penilaian seperti orisinalitas karya dan memiliki korelasi yang jelas dengan tema konfrensi.

Dosen dari IAIN Cirebon yang merupakan peserta AICIS, Rosita mengatakan AICIS memberi kesempatan bagi para akademisi untuk saling mengetahui perkembangan isu dari daerah dan berbagai disiplin ilmu yang ada di Indonesia. Selain itu, para akademisi juga dapat mengetahui perkembangan keilmuan islam di dunia. "Bagi saya ini peluang, dalam melihat wajah islam serta untuk melihat fenomena dan menjawab kajian keislaman itu sendiri," katanya.

Tahun ini, AICIS diikuti oleh 1600 peserta dari berbagai perguruan tinggi Islam negeri dan swasta yang ada di indonesia. Sedangkan jumlah paper yang dipresentasikan sebanyak 160. AICIS tahun ini juga menghadiri narasumber dari lima benua yakni Asia, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia.


Sabtu, 22 November 2014, 08:29 WIB

Jurus Menag Melawan Pemalsu Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, KARIMUN -- Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin meresmikan pembangunan gedung Tahfidz Quran di Kepulauan Niur, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Peresmian ditandai dengan penanda tanganan prasasti dilanjutkan dengan peletakan batu pertama gedung Tahfidz Quran. "Berdirinya pusat Tahfidz Quran ini, merupakan bentuk ikhtiyar kita untuk Menjaga Alquran," kata Lukman dalam sambutannya di Kepulauan Niur, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (15/11).

Pembangunan gedung Tahfidz, menurutnya, sebagai pekerjaan mulia. Sebab melanjutkan pekerjaan para sahabat Nabi Muhammad SAW dalam menjaga Alquran. "Melakuan bagian janji Allah untuk menjaga Alquran," kata menag. Pekerjaan menjaga Alquran seperti itu merupakan pekerjaan yang sangat bermanfaat bagi umat Islam.

Pendirian Tahfidz Quran ini, menurut Menag, merupakan bentuk perlawanan terhadap derasnya  upaya pemalsuan ayat Alquran. "Pemalsuan Alquran telah terjadi sejak dahulu, dari zaman Musailamah Alkaddzab," kata Menag. Dia berharap pembangunan Tahfidz Quran ini akan ditiru oleh daerah-daerah lain.

Sejak kedatangannya dari Batam ke pelabuhan kecil di desa Niur, Menag dan rombongan disambut oleh ratusan pemain hadrah derbagai usia dari anak-anak hingga dewasa. Ratusan pehadrah berdiri berjajar di pinggir jalan yang membentang sepanjang 1 kilometer. Dari pelabuhan, Menag Lukman dibonceng sepeda motor dari pelabuhan menuju lokasi acara.

Saturday, 15 November 2014, 16:28 WIB

Muslim Indonesia Mesti Jadi Penjaga Perdamaian Dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsep konsolidasi demokrasi multikultural yang berkembang khususnya di daerah yang dilanda konflik, selalu diupayakan untuk perancangan resolusi konflik.

Makanya, perhelatan World Peace Forum (WPF) kelima yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerja sama dengan Cheng Ho Multiculture Trust of Malaysia dan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) pada 20-23 November 2014 menjadi penting guna mengupayakan perdamaian dunia.

Menanggapi misi utama WPF, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut, semua warga yang berbangsa dan bernegara wajib menjaga ketertiban dunia dan menebarkan kedamaian.

"Dan umat Islam Indonesia berpeluang besar menjadi model perdamaian dunia," jelas menag Kamis (20/11) malam di gedung Nusantara IV DPR RI, sebelum acara WPF dibuka.

Dikatakannya pula, kerukunan dan perdamaian di bumi Indonesia dan dunia mesti dijaga, sebab hal tersebut merupakan amanat konstitusi sebagaimana disebut dalam alenia keempat UUD 1945.

Acara pembukaan WPF sekaligus merayakan milad Muhammadiyah ke-102 dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya Islam.

Hadir dalam acara pembukaan ini Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Zulkifli Hasan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan Ketua Cheng Ho Multiculture Trust of Malaysia, Tan Sri Lee Kim Yew dan  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua Pelaksana WPF, Andar Nubowo menyebut WPF dihadiri 200 peserta yang akan berdialog, memperlajari akar konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia mulai dari konflik di Afrika Tengah, Semenanjung Balkan, kawasan Thailand selatan, Filipina selatan, dan Indonesia yakni Aceh dan Maluku.

Friday, 21 November 2014, 05:12 WIB

 

Menag Sedih Korupsi Masih Tinggi di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengakui Indonesia masih tertinggal dalam aspek tertentu dengan bangsa lain disebabkan masih tingginya angka korupsi.

"Negara kita dalam aspek-aspek tertentu masih tertinggal dengan bangsa lain, salah satunya karena angka korupsi masih tinggi," kata Lukman Hakim ketika memberi sambutan pada pembukaan Mahaniti Loka Dhamma tingkat nasional IV-2014 di Jakarta, Senin malam.

Menurut LHS-sapaan akrab Lukman Hakim Saifuddin-ke depan penanaman kejujuran sebagai budaya hidup menjadi sangat penting. Tanpa menyebut angka jumlah korupsi yang terjadi di Indonesia, LHS menyatakan, dengan membudayakan kejujuran, inovatif, kreatif dan toleransi sebagai upaya pembentukan karakter bangsa, maka Indonesia diharapkan mampu bertahan di tengah derasnya arus globalisasi.

Belajar dari sejarah perjuangan bangsa, katanya, pemuda mengambil peran penting terhadap perubahan kehidupan bangsa. Peristiwa heroik 10 November yang kebetulan bertepatan pada acara tersebut telah memberikan inspirasi, ketauladanan jiwa patriotisme dan nasionalisme arek-arek Suroboyo yang mengibarkan bendera Merah Putih di tengah berondongan senjata penjajah.

Ia mengatakan, pemuda Indonesia mempunyai tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan pahlawan agar Indonesia setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Oleh karena itu pembinaan dan pengembangan kreativitas mahasiswa harus ditempatkan dalam kerangka semangat nasionalisme, alat pemersatu bangsa.

"Saya berharap kepada semua pimpinan lembaga, institusi dan semua pihak untuk memberikan ruang kepada para mahasiswa dalam mengembangkan kreatifitas dan berinovasi melalui penyediaan sarana prasarana, pendanaan dan penyelenggaraan event-event terkait," kata Menag.

Selasa, 11 November 2014, 07:00 WIB

 

Top