Menag: masih ada lima kontainer korban Mina

Mekkah (ANTARA News) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan masih ada lima kontainer berisi jenazah korban peristiwa Mina yang belum diidentifikasi di pemulasaran mayat Al Muashim, Mekkah, sehingga tim Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) akan kembali ke lokasi tersebut sore ini.

"Semula kami melihat ada empat kontainer, ternyata ada lima kontainer, yang setiap kontainernya berisi puluhan jenazah," kata Lukman di Mekkah, Arab Saudi, Senin, usai memaparkan langkah pemerintah cq Kementerian Agama selaku PPIH dalam mengidentifikasi jemaah Indonesia yang menjadi korban peristiwa Mina.

Ia mengatakan sampai pukul 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS) pihaknya telah mengidentifikasi 41 jemaah Indonesia yang menjadi korban tewas peristiwa Mina dan empat korban dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah bermukim di Arab Saudi.

Dengan demikian sementara ini ada 45 warga negara Indonesia yang menjadi korban pada insiden berdesak-desakan dan terinjak-injak di Jalan Arab 204, Mina, Kamis pagi (24/9) pukul 07.40 WAS.

PPIH, lanjut dia, telah melakukan tiga kali identifikasi jemaah Indonesia yang menjadi korban peristiwa Mina tersebut, yaitu pertama pada tanggal 25 September 2015, sehari setelah peristiwa, dan menemukan dua jemaah Indonesia yang wafat dari 500 foto yang dirilis Pemerintah Arab Saudi sebagai korban Mina.

"Pada 25 september pukul 23.00 WAS itulah baru pertama kali tim kami baru dapat akses ke pemulasaran mayat, Al -Muashim," ujar Lukman yang mengaku kecewa walau bisa memaklumi langkah Pemerintah Arab Saudi yang lamban memberi akses kepada pemerintah yang warganya menjadi korban untuk melakukan identifikasi.

Kemudian pada identifikasi kedua dilakukan pada Sabtu, 26 September 2015, tim PPIH menemukan 12 jemaah Indonesia menjadi korban pada peristiwa Mina dari foto yang dirilis sebanyak 350 jenazah.

Identifikasi ketiga yang dilakukan pada Minggu 27 September 2015 sebanyak dua kali yaitu pukul 02.00 WAS dan 14.00 WAS, pihaknya menemukan 14 jemaah Indonesia, dan terakhir pada Senin pukul 02.00 WAS, pihaknya menemukan tujuh jemaah dari 257 foto jenazah yang dirilis Pemerintah Arab Saudi di pemulasan mayat tersebut.

"Kami masih akan terus mencari jemaah Indonesia yang menjadi korban, mengingat masih ada 82 jemaah belum kembali ke pemondokan masing-masing sejak peristiwa Mina," kata Lukman. Apalagi masih ada lima kontainer berisi jenazah yang harus diidentifikasi.

Ia bahkan menegaskan pencarian akan terus dilakukan sampai semua jemaah Indonesia yang belum kembali ditemukan. "Bahkan walau sudah melampaui tanggal 26 Oktober, saat penerbangan terakhir pemulangan jemaah ke Tanah Air, kami masih akan terus melakukan pencarian," ujar Lukman.

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2015

Senin, 28 September 2015 20:33 WIB | Pewarta: Risbiani Fardaniah

Penjelasan Menag Tentang Penanganan Korban Peristiwa Mina

Makkah (Sinhat)--Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Senin (28/09) siang menjelaskan secara detail  upaya penanganan korban pada peristiwa Mina yang terjadi pada Kamis (24/09) lalu. Selain memberikan pemahaman kepada masyarakat, penjelasan ini untuk menepis kesan bahwa Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi lamban dalam menangani masalah ini.

Dalam presentasinya, Menag Lukman menjelaskan bahwa sejak hari pertama terjadinya peristiwa, PPIH telah bergerak cepat dalam melakukan upaya strategis penanganan masalah. Hal itu ditandai dengan membentuk layanan hotline (+966 543603154) sebagai sarana komunikasi bagi masyarakat yang ingin mengetahui keberadaan keluarganya di Tanah Suci.

Selanjutnya,  PPIH menyusun tim investigasi korban. Tim ini bertugas melacak dan menelusuri keberadaan jemaah haji Indonesia di maktab/pemondokan, jemaah yang sakit di rumah sakit, serta jemaah yang wafat di rumah sakit dan tempat Majma’ Thawari bil-Mu’aishim (tempat pemulasaraan jenazah). Bahkan, Menag Lukman turun lapangan untuk turut memastikan tim ini bekerja secara optimal. Lebih dari itu, kehadiran Menag Lukman juga berhasil bernegosiasi dengan pihak Muaishim sehingga tim PPIH memperoleh kemudahan akses dalam proses identifikasi jenazah. (selengkapnya, lihat: Tinjau Pemulasaraan Muaishim, Menag Pastikan Tim Bekerja Optimal_http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&;id=292534)

Langkah ini diperkuat  tim komunikasi yang berhubungan dengan pihak terkait, terutama pemerintah Arab Saudi, muassasah, dan kepolisian. “Tim komunikasi ini penting guna mengupayakan dimudahkannya akses terhadap identifikasi jenazah pada kesempatan yang pertama. Maklum, Arab Saudi memiliki budaya dan sistem yang berbeda dengan Indonesia,” kata Menag Lukman.

Menurut Lukman memang tidak mudah mengakses tempat pemulasaraan jenazah karena pihak Saudi saat itu masih berkonsentrasi pada proses evakuasi. Akses bagi tim PPIH baru diperoleh pada Jum’at, 25 September 2015 pukul 23.00 WAS. “Itulah kali pertama tim kami bisa mendapatkan akses untuk bisa langsung mengidentifikasi sejumlah jasad jenazah korban. Sejak saat itulah akses terbuka dan secara intensif kami bisa mendapatkan korban yang itu adalah jemaah Indonesia,” tutur Menag.

Di Muaishim, Tim PPIH melakukan identifikasi  jenazah melalui tiga tahap, yaitu: Pertama, mencocokkan foto yang dirilis oleh pihak Muashim dengan data Siskohat dan E-Hajj. Hingga malam ketiga, terdapat sekurangnya 1.107 foto yang dirilis.

Bila tidak ada kesesuain data, tim mengecek tanda-tanda identitas dan benda lain yang identik dengan jemaah haji Indonesia. Misalnya, gelang identitas, gelang maktab,tas paspor, aksesoris, pakaian, dan sebagainya. “Jika dengan upaya ini masih ragu, maka tim PPIH Arab Saudi melakukan langkah ketiga dengan langsung melakukan cek fisik jenazah,” tambahnya.

Dari serangkaian proses  itu, Tim PPIH  berhasil mengidentifikasi 45 jenazah dengan rincian 41 jenazah jemaah haji Indonesia dan empat jenazah mukimin—Warga Negara  Indonesia (WNI) yang bermukim di Arab Saudi. (selengkapnya, lihat: 41 Jamaah Haji Indonesia Teridentifikasi Wafat Karena Peristiwa Mina_http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&;id=292429)

Menag menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia sementara ini fokus  pada upaya  pencarian  jemaah yang belum kembali ke maktabnya dan  melanjutkan identifikasi jenazah. “Setelah ini, barulah kita akan melakukan evaluasi sehingga peristiwa ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berarti dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji ke depan,” tandas Menag. (rilis/ar)

Ditulis oleh Affan Rangkuti pada Senin, 28/09/2015 - 22:55

Tinjau Pemulasaraan Muaishim, Menag Pastikan Tim Bekerja Optimal

Makkah (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali menunjukan keseriusannya untuk segera menyelesaikan penanganan korban peristiwa Mina yang terjadi pada Kamis (24/09) lalu. Setelah sebelumnya Menag memilih menunda kepulangannya ke Tanah Air, kali ini Menag memantau langsung proses kerja tim Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dalam mengidentifikasi jenazah korban peristiwa Mina.

“Yang penting, point saya adalah ketelitian kita. Setiap kali mereka mengeluarkan foto begini, selalu ada petugas kita yang melihat secara rinci foto per foto sehingga tidak ada yang mis,” demikian penegasan Menag kepada Jaetul Muchlis, Naif, dan Fadil serta tim PPIH lainnya, Minggu (27/09) malam, saat berkunjung ke Majma’ ath-Thawary bil Mu’aishim yang menjadi tempat pemulasaraan jenazah korban peristiwa Mina.

Ikut dalam monitoring identifikasi jenazah ini, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Abdul Djamil, Irjen Kemenag M Jasin, Direktur Pembinaan Haji dan Umrah Muhajirin Yanis, Direktur Pelayanan Haji luar Negeri Sri Ilham Lubis, Direktur Pengelolaan Dana Haji Ramadan Harisman, Kepala Pusat Informasi dan Humas Rudi Subiyantoro, serta staf khusus Menag Hadi Rahman dan Sekretaris Menag Khoirul Huda.  

Semenjak pertama kali memberikan akses kepada petugas haji setiap Negara, Pemerintah Arab Saudi telah merilis lebih dari 1.000 foto jenazah. Pada malam pertama pembukaan akses, Jumat (25/09) malam, dirilis sekitar 500 foto. Pada malam kedua kemudian dirilis kembali 350 foto. Dan pada malam ketiga, ketika Menag Lukman berkunjung, diinformasikan bahwa telah dirilis kurang lebih 300 foto.

Pantauan Media Center Haji (MCH) foto-foto tersebut di tempel pada dinding-dinding dua buah ruangan besar dengan luas sekitar  60 meter persegi. Satu ruangan diperuntukan untuk menempel foto-foto sebelumnya, sedang satu ruangan untuk menempel foto-foto rilis terbaru.

Kepada Tim PPIH, Menag mengingatkan betul agar jangan sampai ada foto yang terlewati sehingga tidak sampai terperiksa. “Kita harus yakin bahwa semua foto yang dirilis itu sudah kita lihat semua. Sebab, kalau tidak kita lihat, maka kita tidak bisa cek ke tempat mayat,” jelasya.

Ditegaskan Menag bahwa ketelitian dalam verifikasi sangat penting. Bagaimana cara kita melakukan verifikasi itu juga akan semakin menunjukan profesionalitas kitadalam bekerja. “Semakin banyak cara memverifikasinya itu menunjukan keseriusan dan tingkat kecermatan dan ketelitian,” terang Menag.

Sebelumnya, kepada Menag Lukman, Fadil menjelaskan mekanisme identifikasi yang dilakukan oleh Pemeritah Arab Saudi. Menurutnya, jenazah korban peristiwa Mina disimpan dalam beberapa kontainer berpendingin udara. Ketika pemeriksaan akan dimulai, kontainer dimasukan satu persatu ke ruangan identifikasi. “Sistemnya kontainer masuk, jenazah turun, identifikasi ada barang apa, lalu masukan ke file, setelah itu kontainer keluar dan masuk lagi kontainer selanjutnya. Sekarang ini masih ada 4 kontainer,” terang Fadil.

Menurut Fadil, dalam proses identifikasi, setelah jenazah diturunkan, maka akan difoto untuk dirilis da diberi nomor jenazah. Bersamaan dengan itu, dokumen atau benda apapun yang melekat pada jenazah akan diambil untuk kemudian dimasukan dalam satu file (amplop) tersendiri yang juga diberi nomor jenazah.

Petugas haji, lajut Fadil, mengawali identifikasi jenazah dari foto-foto yang dirilis oleh Pemerintah Arab Saudi. Jika ada kemiripan, dilakukan proses cek lanjutan dengan mencocokan file yang tersimpan di gedung yang berbeda.

“Kalau dari segi fisiknya terlihat di foto ada kemiripan dengan Indonesia, kita cek ke filenya. Meski pernah sekali ternyata setelah dicek ternyata bukan orang Indonesia,” katanya.

Fadil mengaku proses identifikasi itu memang membutuhkan waktu. Pasalnya, ada kalanya foto sudah dirilis namun ketika akan dilakukan crosscheck ke file, ternyata file dengan nomor rilis foto yang ada belum keluar sehingg harus menunggu sampai file itu keluar. “Ada juga yang fotonya sudah dirilis dan kita sudah menemukan, file tersebut belum muncul. Kita tunggu sekitar setengah jam, file itu baru muncul di ruang selanjutnya,” kisahnya.

Kepada Menag, Fadil mengatakan bahwa secara umum identitas jamaah ditemukan dengan petunjuk gelang. Namun demikian, Fadil juga berbagi kisah keberhasilannya mengidentifikasi jenazah jamaah haji yang ternyata hanya meninggalkan handphone. Awalnya Fadil mengidentifikasi salah satu foto jenazah sebagai orang Indonesia. Setelah itu, dia melakukan pengecekan ke file jenazah tersebut sesuai dengan nomornya.

“Setelah dicek ke file, ternyata tidak meninggalkan apa-apa, hanya sebuah handphone. Kita ambil simcardnya, kita cek ke siaap dia menelepon terakhir dan sms. Dari situ diketahui kalau ternyata dia adalah WNI over stayer asal Malag yang sudah 15 tahun di sini dan akhirnya kita dapat,” kisahnya.

Mendengar hal itu, Menag mengatakan bahwa informasi tentang bagaimana tim PPIH  menelusuri jenazah harus dapat didokumentasikan dengan baik. “Ini menarik. Jadi berbagai variasi cara verifikasi itu dijelaskan,” kata Menag.

“Mekanisme cara kita memverifikasi juga harus didokumentasikan untuk bahan laporan. Begini loh proses verifikasi yang kita lakukan. Anda tadi menceritakan kronologis … ini lho foto-fotoya, cara kita mengidentifikasi, mengenali,…nanti di jenazah difoto-foto juga cara kita mengidentifikasi,” tambahnya.

Selain ke ruang rilis foto, Menag juga berkesempatan melihat ruang penyimpanan file dan dokumen jenazah, juga melihat langsung kamar penyimpanan jenazah. Pantauan tim MCH, tampak  beberapa jenazah yang dijejer rapih dalam sebuah ruangan berpendingin.

Sampai dengan Senin (28/09) dini hari, Tim PPIH telah berhasil mengidentifikasi 41 jamaah haji Indonesia yang wafat karena peristiwa Mina. Namun demikian, dari laporan yang masuk, masih ada 82 jamaah haji Indonesia yang belum diketahui keberadannya. Untuk itu, Dirjen PHU Abdul Djamil memastikan bahwa tim PPIH akan terus bekerja keras untuk melakukan penelusuran.

“Tim telah berusaha keras siang dan malam mencari jamaah yang masih belum diketahui keberadaannya dan mengidentifikasi jenazah yang telah diketahui meninggal dunia,” terang Abdul Djamil, Senin (28/09). (mkd/mch/mkd)

 

Senin, 28 September 2015, 10:31 – Haji

 

Pantau Penyelesaian Mina, Amirul Haj Tunda Kepulangan

Makkah (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang juga Amirul Haj pada penyelenggaraan haji 1436H/2015M memutuskan untuk menunda kepulangannya ke Tanah Air. Hal ini menurutnya menjadi bagian dari komitmennya untuk memantau langsung penanganan dampak peristiwa Mina yang terjadi pada Kamis (24/09) lalu itu.

Menurutnya, Amirul Haj, naib dan anggota dijadwalkan akan kembali ke Tanah Air pada Senin (28/09) mendatang. Namun demikian, Menag merasa bahwa peristiwa Mina belum tuntas di mana masa krisis dan masa kritis masih belum kembali ke kondisi normal. “Untuk itu, saya memutuskam untuk menunda kepulangan saya selama beberpaa hari sampai kondisinya sudah relatif normal, bisa berjalan sebagaimana mestinya,” tegas Menag kepada Media Center Haji (MCH), Sabtu (26/09).

“Rombongan Amirul Haj yang lain tetap berangkat (ke Tanah Air) sesuai dengan rencana,” tambahnya.

Ditambahkan Menag bahwa sebagai Amirul Haj dirinya merasa harus bertanggung jawab melihat langsung bagaimana penanganan dampak peristiwa Mina ini khususnya yang terkait jamaah haji indonesia. “Mereka yang luka dan wafat pengurusannya seperti apa, saya harus berada di sini,” tandasnya.

Sebanyak dua belas orang terpilih sebagai Amirul Hajj untuk penyelenggaraan ibadah haji 1436H/2015M. Mereka telah bekerja bersama-sama di bawah komando Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kedua belas orang yang berasal dari unsur Pemerintah dan unsur pimpinan ormas Islam itu adalah: 1. Lukman Hakim Saifuddin, 2. Masdar Farid Mas’udi, 3. Syamsul Anwar, 4. Achmad Gunaryo, 5. Muhyiddin Junaidi, 6. Jihaduddin, 7. Yusnar Yusuf, 8. Abdul Mu’thi Nurhadi, 9. Maman Abdurrahman, 10. Ahmad Satori Ismail, 11. Agus Sartono, dan 12. Chairul Radjab Nasution.

(mkd/mch/mkd)

Top