Glenn Fredly: Oase yang Berpulang

KALA itu, akhir Februari 2018. Seseorang menelepon saya, mengundang untuk membuka Konferensi Musik Indonesia di IAIN Ambon, Maluku. Saya terkejut sekali, bukan hanya karena diminta berbicara perkara yang saya tak terlalu dalami, tapi terlebih karena yang memintanya adalah Glenn Fredly, musisi kondang yang saya kagumi.

Respek saya terhadapnya kian dalam. Musisi kenamaan Kristiani meminta seorang menteri agama berbicara musik di perguruan tinggi negeri Islam. Pagi 5 Maret 2018, saya tiba di Ambon.

Ia berjanji menjemput saya di bandara. Saya sengaja tak berpeci, tampil informal, mencoba menyesuaikan diri dengannya yang saya bayangkan berpakaian kasual. Namun, ternyata ia berpenampilan necis. Berbatik lengan panjang dan mengenakan peci hitam bak santri modis.

 

Ia kenakan itu semata demi menghormati saya. Kepribadian Glenn memang terpuji. Terhadap nasib sesamanya amat peduli. Ia adalah oase di mata kerabat dan rekannya yang hidup susah.

Ia begitu cair, mudah menghibur siapa pun. Ia juga sering kali menuntun nurani menunjukkan jalan menuju hakikat kemanusiaan. Itulah Glenn.

Ia identik dengan musik. Ia adalah musik itu sendiri, yang hakikatnya oase yang menghibur, sekaligus jalan mengolah rasa yang mengantarkan menuju jati diri kemanusiaan.

Berinteraksi dengan Glenn layaknya kita bermusik. Pada dirinya mengandung unsur universal, harmoni, stimulan, ekspresi, dan komunikasi. Ia terbuka dan disukai semua kalangan lintas batas. Ibarat musik yang berciri universal, ia disukai kalangan mana pun. Seperti layaknya musik yang mengandung unsur harmoni, ia kerap berupaya menjaga serangkaian bunyi dan nada kehidupan dalam harmoni dan kesesuaian menuju ketenteraman, kedamaian, dan kebahagiaan.

Glenn mampu memberikan efek stimulasi yang tinggi. Bak musik, bersamanya kita bisa dibawanya tenang dan rileks. Semangat kita bisa ia kobarkan seperti saat mendengar musik cadas.

Namun, ia pun teramat mahir membuat kita mellow lantaran begitu syahdu menyikapi patah hati dan rindu. Lagu-lagu ciptaannya menunjukkan dirinya yang begitu piawai ungkapkan perjalanan cinta. Ada yang berseloroh menggambarkan sosoknya. Dikatakan bahwa Glenn itu begitu pandai menyembunyikan kesusahannya sendiri, sepandai dia menyembunyikan cintanya kepada seseorang.

Namun, bila sedang patah hati, ia serta-merta luncurkan lagu baru yang semua orang tahu. Di malam wafatnya dan setelahnya, kita bisa saksikan betapa luas pergaulannya.

Ia adalah sosok yang mudah berkomunikasi, bukan karena kepandaiannya, tetapi lantaran ketulusan dan kejujuran yang melandasinya. Lagi-lagi ibarat musik sebagai alat komunikasi.

Glenn kerap berkomunikasi melebihi luasnya ungkapan kata. Bahasanya mudah dicerna, semudah kita mendengar musik dengan hati dan rasa. Itulah kekhasannya. Kehadiran rasa pada dirinya menjadi jiwa kemanusiaannya.

Glenn tak hanya musisi andal. Ia sekaligus aktivis kemanusiaan yang gigih. Ia pendamping dan sahabat kaum marginal. Pembelaannya pada gerakan advokasi kemanusiaan terkait pelanggaran HAM (hak asasi manusia) tercatat panjang.

Jika kita membicarakan nasib masyarakat Indonesia bagian timur, nama Glenn akan dikenang. Ia tak hanya sangat peduli dengan kemajemukan yang menjadi ciri keindonesiaan, tetapi juga amat gandrung dengan nilai kemanusiaan.

Beberapa kali saya bersamanya dalam beragam program kemanusiaan. Dalam acara ”Ramadhan & Human Rights”, misalnya. Atau juga ketika menjadi narasumber bersama dalam program ”Belajar dari Gus Dur”.

Begitu pula saat penggalangan dana untuk Museum Hak Asasi Manusia Omah Munir. Juga dalam acara ”Soulcialfest”, yang menghadirkan sejumlah tokoh agama dan artis, mengangkat tema When Religion Means Love.

Dalam setiap acara semacam itu, Glenn tak hanya pandai memainkan alat musik dan melantunkan suara merdunya. Ia juga amat fasih berbicara tentang keragaman, persaudaraan, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Sebagai pengagum Gus Dur, ia adalah sosok Gusdurian yang mampu menangkap dan menerapkan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan oleh tokoh idolanya itu.

Suatu saat, saya berkabar di Twitter tentang perjumpaan saya dengan rabi Yahudi dan pendeta Kristen. Kami berjumpa dalam acara konferensi internasional di Kairo, Mesir, yang memperjuangkan Jerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Glenn menyahuti tweet saya itu dengan ungkapan: ”Luar biasa Pak Lukman. Ini soal kedaulatan dan kemanusiaan yang harus diperjuangkan di Palestina”.

***

Kamis, 9 April 2020, saat pelepasan jenazah Glenn di Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Jakarta Selatan, sebelum tutup peti mati, saya didaulat kerabat untuk memberikan sambutan singkat. Saya lalu mengatakan dalam sambutan itu bahwa di malam wafatnya, di antara begitu banyak handai tolan yang menyampaikan berita duka, ada yang meminta klarifikasi dan konfirmasi ke saya mengenai apa agama yang dianut Glenn.

Saya katakan, ”Agama Glenn adalah kemanusiaan. Karena kemanusiaanlah yang selama ini menjadi spiritnya.” Dalam sambutan sesaat itu juga saya sampaikan bahwa ”Dengan musik, suara, dan hatinya, Glenn mengungkapkan rasa. Dan dengannya dia mengantarkan kita semua untuk senantiasa mencintai Indonesia, mencintai sesama.”

Selamat jalan sahabat Glenn, berpulanglah sepenuh damai. (*)

Top