PPP Ajak Partai-partai Islam Pulang ke "Rumah Besar"

RMOL. Partai-partai berbasiskan Islam yaitu PKS, PPP, PAN dan PKB sulit diharapkan untuk memperoleh peningkatan suara signifikan pada pemilu dua tahun lagi.

Dalam beberapa hasil survei mereka tidak pernah menduduki tiga besar. Bahkan, Lembaga Survei Nasional menyebut semua partai Islam hanya memiliki elektabilitas 5 persen ke bawah.

Jika tidak segera melakukan konsolidasi serius, partai-partai Islam yang tersisa bisa gagal masuk Senayan.

Partai Pembangunan Persatuan (PPP) tidak menampik persepsi itu. Untuk menghimpun lagi kekuatan parpol Islam yang tercerai berai, partai berlambang Kabah tersebut membuka pintu bagi partai-partai berbasis Islam lainnya untuk bergabung.

"Pada prinsipnya PPP itu kan menyatakan diri sebagai rumah besar Islam, jadi kita sangat terbuka untuk bagaimana partai-partai Islam yang lain bisa bergabung kembali ke rumah besarnya," kata Wakil Ketua Umum PPP, Lukman Hakim Saifuddin, di sela acara seminar politik dengan tema 'Disharmoni Hubungan Presiden dengan DPR', di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu (18/7).

Partai-partai Islam diprediksi akan semakin terbenam. Berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN), semua partai Islam hanya memiliki elektabilitas 5 persen ke bawah. Survei tersebut dilakukan pada 10-20 Juni 2012 di 33 provinsi di Indonesia. Metode pengambilan sampel menggunakan multistage random sampling dengan jumlah responden 1.230 dan margin of error plus minus 2,8 persen.

Secara keseluruhan, Golkar unggul dengan elektabilitas sebesar 20,1 persen. Kemudian disusul PDI Perjuangan 14 persen dan Demokrat 10,5 persen. Sementara PKS sebesar 5,1 persen, Nasdem 4,8 persen, Gerindra 4,5 persen, PAN 3,8 persen, PPP 3,5 persen, PKB 3,3 persen, dan Hanura 3,2 persen.

Di pemilu 1999, perolehan suara semua partai Islam mencapai 36,52 persen. Pada 2004 naik menjadi 38,39 persen. Di 2009 menurun menjadi 29,14 persen. Dan hasil survei LSN saat ini suara semua partai Islam hanya 15,7 persen. [ald]

Rabu, 18 Juli 2012 , 17:28:00 WIB
Laporan: Ruslan Tambak

Top