Banyak Caleg Stres dan Marak Politik Uang, UU Pemilu Diminta Diubah

Jakarta - Pemilihan Umum 2014 diwarnai aneka kejadian unik. Mulai dari kecurangan saat rekapitulasi penghitungan suara, hingga calon anggota legislatif yang stres karena gagal terpilih. Bagi politisi Partai Persatuan Pembangunan Lukman Hakim Saifuddin, pemilu tahun ini adalah yang paling 'kotor' dari lima kali pemilu yang pernah dia ikuti.

Salah satunya menurut dia, praktik politik uang sangat vulgar dijalankan. Saat seorang politisi datang ke suatu daerah untuk kampanye, warga tak lagi mendengarkan visi dan misi si calon anggota legislatif. "Tapi langsung ditanya anda 'kasih' berapa dan butuh suara berapa?," kata Lukman saat berbincang dengan detikcom, Kamis (17/4/2014).

Maraknya politik uang ini menurut dia salah satunya akibat pemilihan umum yang menggunakan sistem terbuka. Para caleg berlomba untuk mendapatkan suara terbanyak dengan menggunakan cara 'kotor', yakni money politics.

Fenomena ini menurut dia tentu akan sangat berbahaya. Pasalnya kemungkinan besar anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terpilih adalah politisi yang didukung kemampuan finansial kuat. Sementara kader-kader partai yang potensial akan tergusur karena minimnya dukungan dana.

Lukman pun mengusulkan agar sistem pemilihan umum diubah. Pemilu tahun ini menggunakan sistem terbuka. Politisi yang mendapat suara terbanyak, dia lah yang berpotensi lolos menjadi anggota dewan.

"Mestinya pemilu nanti tidak menggunakan sistem terbuka sekali, namun juga tidak tertutup sekali," kata Lukman.

Usulan yang sama disampaikan politisi Partai Demokrat Nova Riyanti Yusuf. Perempuan yang menjadi caleg untuk daerah pemilihan Jawa Timur VI ini mengaku juga melihat secara langsung maraknya praktik money politics.

Kamis, 17/04/2014 15:29 WIB
ERWIN DARIYANTO - detikNews

Top