Ini Caleg DPR Terpilih Dari Dapil Jawa Tengah VI

Jakarta,sayangi.com- Lima dari tujuh caleg DPR RI petahana (incumbent) yang bertarung di Daerah Pemilihan (Dapil) Jateng VI diprediksi lolos kembali ke Senayan. Mereka adalah Abdul Kadir Karding (PKB), Tjatur Sapto Edy (PAN), Lukman Hakim Saifuddin (PPP), serta Nusyirwan Soedjono dan Sudjadi (PDIP). Sejumlah media  sempat memberitakan bahwa Lukman Hakim Saifuddin, yang saat ini menjabat wakil ketua MPR, gagal kembali ke Senayan.

Dua orang caleg DPR petahana yang gagal adalah Nurcahyo Anggorojati (Demokrat) karena partainya tidak berhasil meraih kursi DPR di dapil ini, dan Ir. Bambang Sutrisno (Golkar) karena suara individunya kalah dari caleg Golkar nomor urut 1 atas nama Iqbal Wibisono.

Demikian prediksi pembagian kursi DPR dari Dapil Jateng VI yang mencakup Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Kabupaten Magelang, dan Kota Magelang, berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara perolehan partai politik dan calon anggota DPR daerah pemilihan Jawa Tengah VI, yang telah disahkan KPU pada Rabu (30/4) malam.

Menurut perhitungan yang dilaporkan KPU Jawa Tengah, total suara sah 12 parpol peserta Pemilu 2014 untuk Dapil Jateng VI mencapai 2.014.315 dan surat suara tidak sah 266.752. Total pemilih yang menggunakan hak pilihnya 2.281.067.

Berikut perolehan total suara 12 parpol di Dapil Jateng VI, disusun berdasarkan parpol yang meraih suara terbesar.

1. PDIP 454.259
2. PKB 358.790
3. Gerindra 207.410
4. Golkar 203.508
5. PAN 162.515
6. NasDem 146.264
7. PPP 137.499
-----------------------
8. Demokrat 131.447
9. Hanura 101.462
10.PKS 91.774
11.PBB 11.385
12.PKPI 8.002

Untuk menghitung parpol yang berhak memperoleh kursi DPR, total suara sah sebesar 2.014.315 dibagi 8 sesuai jatah kursi DPR untuk dapil Jateng VI sehingga diperoleh angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) sebesar 251.789.

BPP tersebut adalah sementara karena masih menyertakan suara parpol yang tidak lolos parliamentary treshold mengingat perhitungan suara sah nasional dari 77 Dapil DPR belum seluruhnya disahkan oleh KPU.

Dari suara ke-12 parpol, hanya PDIP dan PKB yang melampaui BPP 251.789. Pada perhitungan tahap pertama, PDIP dan PKB
masing-masing mendapat satu kursi DPR.

Selanjutnya, sisa 6 kursi DPR diperebutkan pada perhitungan tahap kedua berdasarkan sisa suara parpol yang terbesar, dan hasilnya enam kursi itu diraih oleh Gerindra, Golkar, sisa suara PDIP, PAN, NasDem, dan PPP. Lima parpol yang gagal meraih kursi DPR adalah Demokrat, Hanura, PKS, PBB, dan PKPI.

Berikut ini 8 caleg DPR dari Dapil Jateng VI yang diprediksi lolos ke Senayan

1. Ir. Sudjadi (PDIP/79.681)
2. Abdul Kadir Karding (PKB/128.037)
3. Harry Poernomo (Gerindra/56.323)
4. Iqbal Wibisono (Golkar/50.868)
5. Nusyirwan Soedjono (PDIP/55.293)
6. Tjatur Sapto Edy (PAN/82.723)
7. Choirul Muna (NasDem/66.131)
8. Lukman Hakim Saifuddin (PPP/38.620)

Minggu, 04 Mei 2014 18:37
Oleh:  Bambang Budiono

Wakil Ketua Umum DPP PPP Kembali ke Senayan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Lukman Hakim Saifuddin kembali meraih kursi sebagai anggota DPR periode 2014-2019. Hasil perolehan suara PPP di dapil Jawa Tengah VI yang dibacakan KPU saat rekapitulasi nasional memenuhi syarat perolehan satu kursi DPR.

Rapat pleno, Rabu (30/4) mengesahkan suara DPR dari dapil Jateng VI. Lukman Hakim yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua MPR kembali maju menjadi caleg pada nomor urut 1. Dia memperoleh suara sebanyak 38.620.

Dengan perolehan suara akhir sebanyak 137.499, PPP tidak mampu menyentuh angka bilangan pembagi pemilih (BPP) sebesar 249.369,4. Angka BPP berdasarkan suara sah parpol yang diprediksi lolos ambang batas parlemen.

Perolehan PBB dan PKPI diperkirakan tidak mencapai syarat 3,5 persen dari suara nasional. Alhasil, suara sah sebanyak 1.994.955 dibagi delapan kursi.

Namun, PPP mendapatkan satu tempat saat penghitungan sisa kursi. Pada penghitungan tahap pertama, hanya PDIP (454.259 suara) dan PKB (358.790 suara) yang memperoleh kursi karena suaranya mencapai angka BPP.

PDIP mendapatkan satu kursi pada penghitungan tahap pertama. Kursi DPR ditempati caleg nomor urut 2, Sudjadi. Sementara PKB mendapatkan satu kursi ditempati caleg petahana Abdul Kadir Karding.

Pada penghitungan tahap kedua, Partai Gerindra (207.410 suara) mendapatkan satu kursi yang ditempati caleg nomor urut 1, Harry Poernomo. PDIP kembali mendapatkan satu kursi dengan sisa suara 204.889. Kursi diperuntukkan untuk caleg nomor urut 1, Nusyirwan Soejono.

Kursi kelima ditempati caleg Partai Golkar, M Iqbal Wibisono. Kursi keenam diraih PAN dengan perolehan suara 162.515. Kursi DPR diisi caleg petahana, Tjatur Sapto Edy.

Kursi ketujuh diraih Partai Nasdem yang memperoleh suaar 146.264. Caleg Nasdem yang lolos ke Senayan adalah Choirul Muna. Sementara kursi terakhir, ditempati Lukman Hakim Saifuddin dari PPP.

Kamis, 01 Mei 2014, 14:50 WIB

Menebak Rivalitas Jokowi-Prabowo di Partai Kabah

INILAHCOM, Jakarta - Pertarungan Jokowi versus Prabowo Subianto secara telanjang muncul di internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Elit PPP saling bermanuver satu sama lain. Dampaknya, kesepakatan islah hanya menjadi macan kertas. Seruan tokoh kharismatik PPP KH Maimoen Zubeir seolah tak bermakna.

Manuver politik Ketua Umum PPP Suryadharma Ali yang mengumpulkan pimpinan wilayah PPP dengan mengarahkan dukungan kepada capres Prabowo Subianto akhir pekan lalu dibalas dengan manuver Sekjen PPP Romahurmuziy dengan menggelar pertemuan dengan elit PDI Perjuangan, Selasa (6/5/2014).

Rivalitas dua kubu kandidat presiden antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto di internal PPP sulit ditampik. Meski, ujung dari serangkaian manuver para elit PPP ditentukan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PPP.

Wakil Ketua Umum DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin tidak menampik bila di internal partainya ada pendapat yang menginginkan Prabowo Subianto, Joko Widodo termasuk Aburizal Bakrie. "Memang terbagi dukungan ada yang ke Jokowi, Prabowo, ARB, ada pula yang ingin di luar itu," ujar Lukman Hakim Saifuddin di Gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (6/5/2014).

Lukman mengatakan masing-masing kelompok saling memengaruhi satu sama lain di internal partai. Hal tersebut kata Lukman, merupakan hal yang wajar. Langkah Suryadharma Ali yang mengundang DPW PPP se Indonesia akhir pekan lalu, menurut Lukman memang menimbulkan banyak tafsir di internal. "Tapi apapun, forum Rapimnas merupakan forum resminya," tegas Lukman.

Manuver Suryadharma Ali yang mengumpulkan pimpinan wilayah PPP akhir pekan lalu memberi dukungan kepada Prabowo Subianto sebagai upaya maksimal membawa gerbong dukungan kepada capres Partai Gerindra. Penandatanganan dukungan melalui formulir yang dibagi kepada pimpinan DPW PPP juga sebagai bentuk mengikat para pimpinan wilayah yang memiliki suara dalam forum Rapimnas.

Sementara itu, kalangan yang pro Jokowi di internal PPP menurut sumber INILAH.COM menggunakan jaringan alumni ITB. Sebagaimana maklum, Wakil Ketua Umum DPP PPP Suharso Manoarfa dan Sekjen DPP PPP Romahurmuziy merupakan alumni ITB. Ini sejalan dengan manuver sebelumnya dari kalangan alumni ITB yang mendukung Jokowi.

Namun bila merujuk hasil riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terungkap pemilih PPP justru mayoritas menginginkan Jokowi sebagai capres pilihannya. Dalam riset tersebut terungkap Jokowi didukung pemilih PKPI (89%), PDIP (78%), Nasdem (64%), PBB (50%), Demokrat (47%), PKB (44%), PAN (42%), PPP (40%), dan Golkar (38%).Sementara dukungan terhadap Prabowo paling besar datang dari Gerindra (73%), Hanura (50%), dan PKS (45%). [mdr]

Oleh: R Ferdian Andi R
nasional - Rabu, 7 Mei 2014 | 06:00 WIB

PPP Pertimbangkan Sikap Mbah Mun

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- PDI Perjuangan akan melakukan pertemuan dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pertemuan tersebut rencananya akan digelar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (6/5/2014).

"Memang kita kesepakatannya ada majelis musyawarah partai untuk berkomunikasi dengan semua kalangan partai dan capres. Membuka peluang kerjasama terkait pilpres," kata Wakil Ketua Umum PPP Lukman Hakim Saifuddin di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (6/5/2014).

Lukman mengatakan peluang kerjasama antara pihaknya dengan PDIP terbuka lebar. Hal itu sama dengan komunikasi dengan Golkar dan Gerindra.

Wakil Ketua MPR itu mengakui probabilitas kemenangan juga akan menjadi pertimbangan. "Soal visi dan misi power sharing juga tidak bisa dinafikan. Potensi peluang kebesaran juga kita baca meski bukan satu-satunya," tutur Lukman.

Mengenai kunjungan Jokowi kekediaman Ketua Majelis Syariah PPP KH Maimun Zubair, Lukman mengatakan Mbah Mun dalam posisi menerima. Hal itupun menjadi bagian yang akan dipertimbangkan.

"Kita ingin mendengar apa resminya pembicaraan antara Pak Jokowi dan Mbah Maimun," tuturnya.

Lukman juga mengakui kunjungan Jokowi ke sejumlah pondok pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur dapat menjadi pertimbangan memuluskan langkah koalisi PPP.

"Itu dipolitik saling mempengaruhi seberapa besar pengaruhnya proses kedepannya seperti itu pasti berpengaruh," imbuhnya.

Lukman mengatakan internal PPP juga akan mengadakan rapat pengurus nanti malam. Hasil rapat itu akan dibawa ke Rapimnas PPP.

"Selama rapimnas belum diselenggarakan majelis musyawarah partai punya kewajiban menjajaki koalisi," imbuhnya.


Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

Selasa, 6 Mei 2014 13:25 WIB

Lukman Hakim Pertanyakan Keputusan Suryadharma Bawa PPP ke Gerindra

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin mempertanyakan keputusan partainya yang telah memastikan akan berkoalisi dengan Partai Gerindra. Kesepakatan koalisi secara resmi disampaikan oleh Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali bersama Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, Jumat (18/4/2014), di Kantor DPP Partai Gerindra.

Menurut Lukman, keputusan terkait koalisi seharusnya diambil melalui Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas).

"Saya pikir ketentuan partai sudah jelas. Keputusan dukungan PPP kepada partai lain seusai amanah mukernas partai di Bandung. Keputusan pemberian dukungan (kolaisi) harus dilakukan melalui rapimnas. Rapimnas yang khusus diadakan untuk itu," kata Lukman, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (18/4/2014) malam.

Sebelum menyampaikan keputusan koalisi, Suryadharma melakukan pertemuan tertutup dengan Prabowo selama sekitar 30 menit. Pertemuan itu pun menghasilkan kesepakakatan koalisi antara PPP dan Gerindra. PPP juga setuju untuk mendukung sepenuhnya pencapresan Prabowo tanpa meminta kursi calon wakil presiden atau pun menteri.

"Padahal selain rapimnas tidak dimungkinkan untuk memberikan dukungan untuk si A si B si C, karena forum itu yang digunakan untuk memberi dukungan untuk capres," ujar Lukman.

Namun ketika ditanya apakah keputusan koalisi yang diambil tersebut ilegal, Lukman tak mau menyimpulkan.

"Silakan ditafsirkan sendiri yang saya bilang tadi. Dukungan untuk partai lain hanya bisa dilakukan di rapimnas. Silakan tafsirkan sendiri apa maksudnya," ujar dia.

Ke depannya, kata dia, petinggi-petinggi partai yang tidak setuju dengan keputusan koalisi dengan Gerindra ini akan mengambil sikap. "Tentu partai ini organisasi kolektif kolegial, terbagi dalam majelis-majelis yang ada. Semua memiliki pandangan sendiri dalam melihat kejadian ini. Kami segera ambil sikap," tegasnya.

Sejak awal, manuver politik Suryadharma Ali yang mendekat ke Gerindra memunculkan riak di internal PPP. Berawal dari kehadiran Suryadharma dalam kampanye terbuka Partai Gerindra. Bahkan, ia menyampaikan orasi dan mendukung pencalonan Prabowo sebagai presiden.

Sebanyak 27 Dewan Pimpinan Wilayah PPP melayangkan mosi tidak percaya kepada Suryadharma. IA  dinilai melanggar kesepakatan partai dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II PPP di Bandung yang menyatakan akan menjalin komunikasi politik dengan delapan bakal capres yang ada. Dari hasil Mukernas tersebut, tidak ada nama Prabowo.

Jumat, 18 April 2014 | 20:15 WIB

Penulis    : Ihsanuddin
Editor     : Inggried Dwi Wedhaswary

Top