Lukman Hakim: Muktamar PPP Sudah Selesai

INILAHCOM, Jakarta - Muktamar Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang digelar kubu Romahurmuzy (Romi), di Surabaya dinilai telah tuntas. Tidak ada lagi muktamar di partai berlambang ka'bah ini.

Politisi PPP Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Romi yang telah terpilih dalam muktamar yang digelar beberapa waktu lalu telah resmi.

"Setahu saya yang di Surabaya sudah selesai," kata Lukman, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (17/10/2014).

Terkait keputusan Mahkamah PPP yang menyebut muktamar yang digelar di Surabaya tidak sah, Lukman enggan berkomentar.

Tak Hadir di Jakarta, Mbah Maimoen Zubeir Terima Romi

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Majelis Syariah DPP PPP KH Maimun Zubair hari ini menerima kedatangan Ketua Umum DPP M Romahurmuziy dan Ketua Majelis Pakar Lukman Hakim Saifuddin di Ponpes Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Jumat (31/10) petang.

Mba Moen sebelumnya, tidak hadir dalam Muktamar yang digelar Suryadharma Ali (SDA) di Jakarta. Dalam pertemuan itu, turut hadir juga Ketua DPW PPP Jawa Timur Musyafa Noer.

Pertemuan itu berjalan santai, bahkan canda dan tawa ikut mewarnainya. Pertemuan dengan Mbah Mun cukup lama, dan sempat mengajak para tamu untuk shalat maghrib berjama'ah dan makan malam di ruang keluarga.

Kenali Surat Suara Pemilu Serentak

gambar apk4

Pemilu 2019 adalah pemilu serentak. Pemilu serentak mengagendakan pelaksanaan pemilu legislatif bersamaan hari dan tanggalnya dengan pemilu Presiden. Pada hari pencoblosan, Rabu 17 April tahun 2019, pemilih akan menerima 5 surat suara untuk dicoblos masing-masing sekali di bilik suara. Lima surat suara itu terdiri atas surat suara pemilu anggota DPR RI, surat suara pemilu anggota DPD RI, surat suara pemilu anggota DPRD Provinsi, surat suara pemilu anggota DPRD Kabupaten/Kota, dan surat suara pemilu Presiden-Wakil Presiden.

Enam Nama Diusung sebagai Capres PPP

Metrotvnews.com, Jakarta: Musyawarah Kerja Nasional ke-2 Partai Persatuan Pembangunan hari terakhir mengagendakan deklarasi Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali sebagai calon presiden tunggal.

Namun, 26 DPW beserta Majelis Pakar, Majelis Pertimbangan Partai, dan Mahkamah Partai menolak pendeklarasian tersebut. Mukernas akhirnya hanya memutuskan Suryadharma Ali sebagai bakal capres internal PPP dan enam nama lainnya sebagai capres dari eksternal.

Ketua DPP PPP mengatakan, pembatalan deklarasi capres PPP adalah hasil dari Mukernas. Mukernas mengamanatkan deklarasi setelah pileg, karena perolehan suara PPP belum bisa terekam.

"Ini murni pertimbangan rasional. Setelah pileg, baru bisa menentukan. Jadi PPP tidak mau bermimpi dengan tiba-tiba mendeklarasikan. Sedangkan, perolehan suaranya belum jelas seperti apa," kata Suryadharma usai menutup Mukernas ke-2 PPP di Sasana Budaya Ganesa ITB Bandung, Jawa Barat, Minggu (9/2).

Ia menambahkan, munculnya enam tokoh lain sebagai capres yang diusung PPP seperti, Jusuf Kalla, Joko Widodo, Din Syamsuddin, Isran Noor, Jimly Asshiddiqie, dan Khafifah Indar Parawansa adalah nama-nama yang diyakini mampu mendongkrak perolehan suara partai berlambang Kakbah itu.

"Karena, pemilu legislatif menjadi modal pemilu presiden dan isu pencalonan presiden bisa menjadi pengungkit perolehan suara pemilu legislatif," imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan, 6 tokoh yang dijadikan bakal capres PPP sebagian besar sudah diminta konfirmasi atas dicalonkan sebagai capres oleh PPP.

"Sebagian sudah berterima kasih karena sudah diundang PPP. PPP sadar betul, hanya parpol yang diberikan kewenangan mengusulkan capres cawapres. Maka PPP merasa berkewajiban untuk memunculkan nama-nama itu," katanya. Meski sebelumnya Yenny Wahid tidak bersedia dan menolak undangan PPP sebagai bakal capres.

"Itu hak yang bersangkutan. Ini sekaligus deklarasi keterbukaan. PPP tidak bisa hanya melihat kader partainya," pungkasnya. (Yahya Farid Nasution)

Editor: Prita Daneswari

POLITIK
Minggu, 09 February 2014 | 19:50 WIB

Tetapkan Tujuh Bakal Capres, PPP Kekurangan Figur Internal UntuK Capres?

[BANDUNG] Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) II, di Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/2) hingga Minggu (9/2).  

Mukernas dipimpin Ketua Umum (Ketum) PPP Suryadharma Ali (SDA) dan dihadiri 253 peserta dari pengurus wilayah seluruh Indonesia, pimpinan fraksi DPR dari PPP, pengurus pusat partai.

Dalam rekomendasi Mukernas ditetapkan ada tujuh nama yang bakal menjadi calon presiden (Capres) atau calon wakil presiden (Cawapres) dari PPP.

Satu nama berasal dari internal partai yaitu SDA. Sementara enam nama lainnya dari luar partai yaitu mantan Wapres Jusuf Kalla, Gubernur DKI Joko Widodo, Ketua Umum PP Muhamadiyah M.Din Syamsuddin, mantan Ketua MK Jimly Asshidiqie, Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Kutai Timur Ihsan Noor.

PPP seperti tidak percaya diri dan kekurangan kader sehingga hanya mencalonkan satu capres dari internal. Padahal, semua tahu bahwa banyak kader terbaik dari internal PPP yang bisa bersaing menjadi capres, di antaranya Lukman Hakim Saifuddin.

Ketua Pengarah Mukernas Lukaman Hakim Saifuddin mengemukakan peserta Mukernas dengan bulat menetapkan SDA sebagai Capres atau Cawapres.

Alasannya, SDA adalah kader terbaik PPP saat ini. Namun PPP juga menyadari ada sejumlah nama lain di luar kader PPP yang bakal menjadi Capres.

Karena itu, PPP mengambil enam nama yang saat ini popularitasnya cukup baik. Mengenai siapa yang ditetapkan menjadi Capres atau Cawapres yang final atau defenitif, Lukman menjelaskan hal itu baru dilakukan setelah melihat hasil pemilihan legislatif (Pileg), 9 April nanti.

Penetapan tujuh bakal Capres ini membatalkan rencana SDA mendeklarasikan diri sebagai Capres. Padahal sebelumnya, pada agenda penutupan Mukernas yang digelar 9 Februari, akan dilakukan deklarasi SDA menjadi Capres.

Undangan sudah disebar ke masyarakat luas. Tempat deklarasi di Gedung Sasanan Budaya Ganesha, Bandung. Undangan telah ditandatangani SDA selaku Ketum dan M Romahurmuziy selaku Sekjen PPP. [R-14]


Suara Pembaruan, Senin, 10 Februari 2014 | 7:38

Top