Prof KH Saifuddin Zuhri Jaga RI Religius dan Rukun

Jakarta (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berkisah bahwa ketika menjadi menteri agama pada tahun 1962 – 1968, ayahnya ingin menjaga Indonesia sebagai bangsa yang religius dan rukun.

“Ayah saya menteri agama tahun 1962-1968, memperjuangkan Depag saat itu, untuk menjaga bangsa Indonesia yang religius dan rukun,” kenang Menag saat menerima kunjungan dari Majalah Kartini di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (12/9).

Tampak hadir dalam pertemuan ini,  Kepala Pusat Informasi dan Humas Zubaidi dan Dewi Yamina selaku

Resmikan Perpustakaan Habaib, Menag Kenang Peran Keturunan Arab di Sejarah Indonesia

Resmikan Perpustakaan Habaib, Menag Kenang Peran Keturunan Arab di Sejarah IndonesiaMerdeka.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyayangkan beberapa pihak yang masih menyangsikan kecintaan keturunan Arab di Indonesia terhadap tanah lahirnya. Menurutnya, nasionalisme keturunan Arab di negeri ini sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.

"Sungguh tidak tepat bila ada yang masih mempertanyakan sikap nasionalisme para keturunan Arab, terutama di kalangan Bani Alawi. Sebagai komunitas keturunan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, para habaib mendapat tempat begitu terhormat di hati banyak masyarakat Indonesia," kata Lukman saat meresmikan perpustakaan yang mengoleksi kitab-kitab karangan ulama habaib di nusantara, Maktabah Kanzul Hikmah di Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (29/6).

Menurut Lukman, keturunan Arab memiliki peran yang tidak sedikit dalam sejarah Indonesia. Baik itu sejarah nasional maupun sejarah persebaran agama Islam di negeri ini.

Menurutnya, para ilmuwan sejarah telah bersepakat bahwa keturunan Arab punya peran sentral dalam penyebaran Islam di Indonesia. Menag menyebutkan, Sejarawan Ahmad Salabi dalam Ensiklopedia Sejarah Islam, menuliskan bahwa peradaban Islam di Afrika dan Asia, termasuk Indonesia tidak lepas dari peran migrasi para ulama di selatan Jazirah Arab ke wilayah-wilayah tersebut.

"Peran Sadah (lapisan masyarakat di Hadramaut) dan Asyraf (keturunan Hasan dan Husein anak Ali) dalam penyiaran agama Islam di Indonesia menjadi fakta sejarah yang tak bisa terbantahkan. Baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan," kata Menag.

Wajah Indonesia yang ramah nan damai, menurut Lukman tak terlepas dari sikap dakwah yang arif dari para keturunan Arab terdahulu. Bahkan hal itu menjadi model dakwah penyebaran Islam yang ramah sampai sekarang.

"Keramahan yang menjadi karakter dasar bangsa Indonesia dan kearifan para Da'i penyebar Islam yang banyak dari keturunan Arab melahirkan wajah Islam Indonesia yang damai, moderat dan toleran," ucapnya.

Bukan Hanya Peran Keagamaan

Peran keturunan Arab terutama dari Hadramaut, yakni sebuah wilayah di selatan semenanjung Arab, bukan hanya dalam hal keagamaan. Menurut Lukman, dalam hal kebangsaan juga demikian.

Hal ini terbukti dari berdirinya organisasi Rabithah Alawiyah pada 27 Desember 1928 yang menunjukkan bahwa semangat nasionalisme keturunan Arab bukan hanya jargon belaka.

"Kelahiran organisasi Rabithah Alawiyah pada tanggal 27 Desember 1928, selang dua bulan setelah peristiwa Sumpah Pemuda menunjukkan semangat nasionalisme masyarakat keturunan Arab yang telah memilih Indonesia sebagai tempat tinggal dan Tanah Air untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," ujar Lukman.

Hal itu juga dibuktikan dari artikel yang ditulis oleh keturunan Arab asal Ampel, Surabaya dengan nama AR Baswedan. Dalam artikel yang dimuat Harian Matahari Semarang pada 1 Agustus 1934.

Dalam artikel yang memampang potret AR Baswedan mengenakan blangkon tersebut, menurut Lukman, AR Baswedan mengajak keturunan Arab di Indonesia untuk memegang asas kewarganegaraan tempat lahir, yakni Indonesia.

"Dia mengajak keturunan Arab menganut asas kewarganegaraan Ius Oli, yang artinya di mana saya lahir, di situlah tanah air," pungkas Lukman.

Reporter: Yopi Makdori
Sumber: Liputan6.com [gil]

Menag Lukman Tolak Jadi Menteri Jika Ditawari Lagi

Menag Lukman Tolak Jadi Menteri Jika Ditawari LagiSerang, CNN Indonesia -- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengaku tak ingin lagi menduduki kursi menteri di Kabinet Pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin periode 2019-2024.

Lukman menyebut dirinya sudah lebih dari cukup menjabat sebagai menteri agama pada periode pertama Jokowi memerintah, sejak 2014 hingga saat ini.

"Tidak (tidak mau jadi menteri) saya sudah merasa lebih dari cukup," kata Lukman ditemui di Hotel Le Dien usia menghadiri acara pembukaan Musyawarah Nasional Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Serang, Banten, Jumat (19/7).

 Dia juga menolak jika dirinya akan diajukan kembali sebagai menteri oleh PPP kepada Jokowi untuk periode pemerintahan selanjutnya. Dia bahkan menolak dengan tegas soal kemungkinan dirinya akan diajukan lagi sebagai salah satu menteri Jokowi.

"Tidak, iya cukup," kata Lukman tegas.

Menurut Lukman, saat ini akan lebih baik jika kader lain yang mendapat tawaran posisi tersebut. Katanya, banyak kader di PPP yang pantas dan lebih mumpuni mendapat posisi sebagai menteri.

"Di PPP masih lebih banyak yang pantas yang lebih mumpuni yang lebih memiliki kepatutan dan kepantasan untuk duduki jabatan-jabatan itu. Kalau saya, sudah sudah. Cukup, cukup," katanya.

Soal kabinet kementerian Jokowi periode 2019-2024 memang menjadi perbincangan menarik saat ini. Jokowi sendiri mengaku sudah menyusun komposisi menteri untuk kabinet periode 2019-2024. Jokowi menyebut akan secepatnya mengumumkan formasi Kabinet Indonesia Kerja jilid II tersebut.

"Sudah, sudah (menyusun kabinet), secepatnya (diumumkan)," kata Jokowi di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (12/7).

Jokowi hingga saat ini belum mau bicara terbuka soal komposisi para menterinya. Ia hanya menyatakan formasi kabinetnya diisi dari kalangan partai dan profesional.

"Kira-kira 60 (partai):40 (profesional) atau 50:50. Kira-kira itu," ujarnya.

Jokowi menambahkan bakal ada sosok anak muda dalam kabinet periode kedua 2019-2024. Ia mengaku sudah meminta partai politik pendukung menyetorkan kader mudanya masing-masing untuk menjadi menteri.

"Saya minta dari partai juga ada (kader) yang muda. Ada dari profesional juga (yang tergolong muda untuk menjadi menteri)," kata Jokowi.

Top