KH Saifuddin Zuhri Ulama dan Negarawan Berintegritas

Kesederhanaan tetap ia jalani hingga akhir hayatnya.Terpilihnya Lukman Hakim Saifuddin sebagai menteri agama menggantikan Suryadharma Ali akan menjadi sejarah yang luar biasa. Bukan lantaran pergantiannya, melainkan bahwa Indonesia mempunyai menteri agama yang memiliki hubungan darah, ayah, dan anak.

Lukman adalah putra dari menteri agama ke-9, yakni KH Saifuddin Zuhri. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, demikian kata pepatah.

Siapakah sosok ayahanda Menag Lukman?
KH Saifuddin Zuhri merupakan seorang ulama, pejuang kemerdekaan, politikus, sekaligus wartawan. Sosok yang lahir pada 1 Oktober 1919 ini tumbuh dan berkembag di keluarga yang taat agama. Saifuddin kecil pun dibesarkan dalam pendidikan pesantren di daerah kelahirannya, Banyumas, Jawa Tengah.

Semasa kecil, ia pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Manbaul Ulum dan Salafiyah. Pada usia ke-17, dia meninggalkan Banyumas, pergi ke Solo dan melanjutkan pendidikan untuk memperdalam ilmu agama Islam di LP (Lembaga Pendidikan) Al-Islam, Solo.

Di Solo juga inilah, Saifuddin berkenalan dengan dunia jurnalistik yang membuatnya menghasilkan berbagai tulisan dan buku. Ia juga sempat menjadi koresponden kantor berita, yang kini dikenal sebagai Lembaga Kantor Berita Nasional Antara, dan beberapa harian serta majalah.

Pada saat yang bersamaan, ia mulai bersinggungan dengan dunia pergerakan pemuda Islam. Terlebih, ia hidup pada masa tempaan pergolakan bersenjata dan pergerakan politik.

Ia terpilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Daerah Jawa Tengah Selatan dan Konsul Nahdlatul `Ulama Daerah Kedu. Pada waktu yang sama juga ia tetap mengabdikan dirinya mengajarkan ilmu agama sebagai merangkap guru madrasah.

Saifuddin muda sempat memimpin laskar Hizbullah bersama pasukan TKR di bawah pimpinan Jenderal Sudirman berperang bersama di pertempuran Ambarawa.Kemampuan keilmuan yang begitu luas membuat Kiai Saifuddin bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama yang mumpuni dalam bidang ilmu agama, melainkan juga seorang pejuang dan wartawan.

Aktif dalam organisasi pergerakan Islam Nahdlatul Ulama (NU) membuatnya terjun ber kecimpung dalam dunia politik.

Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI pada usia 39 tahun.Hingga pada 6 Maret 1962, Presiden Soekarno memintanya menjadi menteri agama ketika berusia 43 tahun. Ketika menjabat sebagai menteri agama, KH Saifuddin Zuhri dikenal sebagai perintis pengembangan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di berbagai daerah di Indonesia.

Kiprah politik lain, ia pernah menjabat ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan, Anggota DPR/MPR. Dalam bidang pendidikan, ia pernah menjadi salah satu Guru Besar di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sedangkan dalam bidang kewartawanan, ia pernah menjadi pemimpin redaksi Harian Duta Masyarakat. Di dunia tulis-menulis, ia termasuk produktif. Berbagai karya tulis telah banyak dihasilkannya, di antaranya salah satu karya autobiografinya yang ditulis menjelang akhir hayatnya, Berangkat dari Pesantren, yang diselesaikannya pada 10 September 1985.

Buku autobiografi ini pun menjadi sejarah perjalanan KH Saifuddin Zuhri. Karena berselang enam bulan diselesaikannya buku ini, ulama yang juga pejuang, politikus, serta wartawan itu harus `berpulang'.

KH Saifuddin Zuhri wafat pada 25 Februari dalam usia 66 tahun, meninggalkan 10 anak hasil pernikahannya dengan Solichah.

Keteguhannya dalam berjuang, kesederhanaannya, dan integritas nya dalam mengemban amanah menjadi contoh panutan bagi setiap pemimpin bangsa ini.

Sosok Panutan yang Sederhana
Fase demi fase kehidupan Saifuddin membuatnya memiliki karakter kuat sebagai pemimpin pelayan rakyat. Ia adalah sosok panutan. Ketika menjabat sebaga menag ke-9 (1962-1967) pada Kabinet pemerintahan Presiden Soekarno, ia dikenal tidak mau memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya.

Ia pernah menolak menghajikan adik iparnya, Mohammad Zainuddin Dahlan, dengan biaya dinas dari Departemen Agama ketika ia menjabat sebagai menag pada saat itu. Karakter pribadi yang sederhana dengan integritas tinggi itu telah dipupuk sejak ia kecil oleh kedua orang tuanya.

Ia tetap memilih hidup dalam kesederhanaan. Ia bahkan dikisahkan tetap memilih berdagang beras di Pasar Glodok sehabis shalat Dhuha meski pernah menjadi menteri agama.

rep:Amri Amrullah ed: nashih nashrullah

Republika | Minggu, 07 September 2014 | 19:00 WIB

KH. Saifuddin Zuhri - Anhar Gonggong: Pahlawan, Orang yang Mampu Melampaui Dirinya

Jakarta, NU Online
Sejarawan Anhar Gongong mengatakan, seseorang yang layak dikatakan pahlawan adalah orang yang mampu melampaui dirinya. Dalam konteks sekarang hal  itu yang kurang. Perampok negara (koruptor) itu kan tidak memikirkan negara dan orang lain.

Ia mengatakan hal itu pada seminar “Perjuangan dan Pengabdian KH Saifuddin Zuhri untuk Bangsa dan Negara: Usulan sebagai Calon Pahlawan Nasional Tahun 2013" di Gedung PB NU lantai 8, Jakarta, Selasa (2/7) siang.  

Menurut Anhar, tujuan kita memberikan gelar pahlwan kepada seseorang sebenarnya bukan kepada orang itu, tetapi untuk kita yang masih hidup karena dari almarhum itu kita dapat menimba berbagai hal untuk melanjutkan kehidupan bersama kita.

“Kalau kita berikan gelar pahlawan kepada Pak Saifuddin Zuhri, maka kita dapat berbagai hal yang dapat kita gunakan untuk melihat masa depan Indonesia dalam arti proses-proses yang terjadi, pergumulan-pergumulan dia sebagai pemimpin, sebagai anak muda yang ikut berorganisasi,” katanya.

Dia kemudian menyebutkan sepak terjang dan sumbangan tokoh NU kelahiran Banyumas, Jawa Tengah tersebut.

Menurut Anhar, KH Saifuddin adalah seorang pemikir, hal itu dibuktikan dengan buku-bukunya. “Pak Saifuddin tak pernah almarhum. Dia tetap bersama kita karena pemikirannya. Bukan karena perbuatan fisiknya, tapi pemikirannya. Dalam konteks sekarang sedikit sekali pemimpin yang meninggalkan buku-buku.”

Seorang pahlawan, tambah Anhar, tak bisa dilepaskan kapan dimana ia hidup (konteks). Menurut dia, ada suatu kondisi yang memperlihatkan dan menyebabkan seseorang berjasa. KH Saifuddin Zuhri memimpin pada saat krisis. Ia bersama dan ada dalam krisis dan bersama menyelesaikannya, “Dan Pak Saifuddin Zuhri dalam batas tertentu berperan dalam konteks itu.”

Ia menyebutkan satu sisi Kiai Saifuddin yang berani berkata tidak kepada Presiden Soekarno ketika orang lain tidak berani. Satu contoh misalnya ia berani menentang presdien waktu akan membubarkan organisasi mahasiwa Partai Masyumi, HMI.

“Pak Saifuddin menanggap Presiden Soekarno waktu itu berlebihan,” ujarnya.

Penulis: Abdullah Alawi

Jumat, 05/07/2013 01:00

KH Saifuddin Zuhri dan Pertempuran Ambarawa (2-habis)

Dalam pertempuran Ambarawa, lahir seorang panglima pertempuran yang gagah berani, yang membuktikan kecakapannya dalam strategi dan operasi tempur. Panglima itu, menurut KH Saifuddin Zahri dalam buku Berangkat dari Pesantren adalah Soedirman, Komandan Divisi TKR Banyumas yang berpangkat kolonel.

Dalam pertempuran Ambarawa, Kol. Soedirman memimpin langsung dengan menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Tujuannya adalah memutus rantai komunikasi dan logistik antara Sekutu dengan induknya.

Untuk itu, Kolonel Sudirman membutuhkan dukungan banyak tentara. Tidak mungkin ia menggunakan taktik itu jika mengandalkan tentara reguler, yaitu TKR. Kedatangan laskar-laskar rakyat menjadi sangat penting, karena akan menjadi elemen penting untuk mengefektifkan taktik supit urang.

Salah satu laskar rakyat yang paling terorganisasi dan terlatih adalah Hizbullah. Komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah saat itu, KH Saifuddin Zuhri harus bekerja keras agar taktik yang telah digariskan Sudirman dapat berhasil dengan baik.

Menjelang pertempuran, KH Saifuddin Zuhri harus memobilisasi laskar Hizbullah dalam jumlah besar, karena tektik supit uurang membutuhkan pasukan yang sangat banyak karena menyerang musuh dari dua arah.

Selanjutnya, dalam pertempuran Komandan Hizbullah juga harus menjaga disiplin dan ritme pertempuran agar sampai pada titik penyerangan secara bersamaan dengan pasukan yang berada di arah sebaliknya. Percuma, jika pasukan dari zona utara datang duluan, sementara pasukan dari zona selatan masih di perjalanan. Jika hal itu terjadi, maka tentara Sekutu akan mudah melumpuhkan perlawanan.

Pertempuran Ambarawa memberikan pelajaran penting, yaitu: pertama jika seluruh rakyat bersatu, dengan senjata yang minimal pun mampu mengalahkan musuh dengan persenjataan modern. Kedua, kemenangan bangsa Indonesia dalam pertempuran Amarawa merupakan pernyataan penting bahwa seluruh rakyat Indonesia mendukung Proklamasi Kemerdekaan RI. Ketiga, perang Ambarawa merupakan pesan penting bahwa Sekutu tidak boleh melibatkan diri membantu Belanda yang ingin berkuasa kembali.

Karena keterlibatan aktif, sungguh-sungguh, dan penuh kepahlawanan dari KH Safuddin Zuhri dalam Pernag Ambarawa dan perang gerilya lainnya, malka Presiden/Panglima Tertinggi Angkata Bersenjata Republik Indonesia menganugerahkan “Tanda Kehormatan Bintang Gerilya”, sesuai dengan SK Presiden Republik Indonesia No. 2/Btk/165 tanggal 4 Januari 1965.

Tanda Kehormatan Bintang Gerilya adalah tanda yang dikeluarkan untuk setiap warga negara RI yang menunjukkan keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan yang luar biasa dalam mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia semasa revolusi antara tahun 1945-1950. Mereka yang menerima Tanda Kehormatan Bintang Gerilya berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Ditulis ulang dari, “Riwayat Perjuangan dan Pengabdian Prof KH Saifuddin Zuhri untuk Negara dan Bangsa”

Selasa, 09/07/2013 19:00

PBNU Dukung Usul KH Saifuddin Zuhri sebagai Pahlawan Nasional

Jakarta, GATRAnews - Ketua PBNU, Said Aqil Siradj menyatakan siap untuk mendukung Prof.K.H Saifuddin Zuhri sebagai pahlawan nasional RI. “Semua berawal dari figur. Melalui figurlah lahir peradaban dunia dan sosok Prof. K.H Saifuddin Zuhri layak menjadi seorang pahlawan nasional RI karena beliau turut memberi kontribusi tenaga dan pikirannya untuk melawan penjajah”, ujarnya.

Acara seminar Perjuangan dan Pengabdian Prof. K.H Saifuddin Zuhri untuk Bangsa dan Negara yang digelar selasa (2/7) di kantor PBNU, Jakarta Pusat dihadiri oleh tokoh-tokoh NU, Mahfud MD dan tamu undangan lainnya. Acara tersebut merupakan rangkaian acara apresiasi pengusulan gelar pahlawan nasional kepada Prof.K.H Saifuddin Zuhri.

Diskusi seminar yang dihadiri oleh empat pembicara yaitu Dr. Anhar Gonggong, K.H Chalid Mawardi, Harry Tjan Silalahi dan Ahmad Baso, membahas terkait sepak terjang perjuangan dan pengabdian K.H Saifuddin Zuhri semasa hidupnya. Prof. K.H Saifuddin Zuhri terlibat aktif dalam Pertempuran Ambarawa dan perang gerilya lainnya Dalam Pertempuran Ambarawa, Kol. Sudirman membutuhkan dukungan tentara yang banyak dan tidak mungkin jika hanya mengandalkan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Laskar-laskar rakyat menjadi elemen yang sangat penting. Salah satu laskar rakyat yang paling terorganisir dan terlatih adalah Hizbullah dan K.H Saifuddin Zuhri menjadi komandan divisi hizbullah pada saat itu. Beliau yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama pada periode pemerintahan presiden Soekarno ini pun juga telah memberikan perkembangan yang pesat di dunia pendididikan tinggi Islam selama ia menjabat. Maka dari itu, banyak pihak sudah memberikan rekomendasi pengusulan gelar pahlawan nasional kepada beliau, diantaranya , H. Taufiq Kiemas, Prof. Dr. Mahfud MD, Drs.H. Suryadharma Ali, Din Syamsuddin, dan tokoh-tokoh lain. (*/ReP)

Created on Thursday, 04 July 2013 11:36

Menko Perekonomian dan Ketua MUI Sambut Positif Usulan KH Saifuddin Zuhri Diberi Gelar Pahlawan Nasional

DUTAonline, JAKARTA - MENTERI Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa, menyambut positif usulan agar KH Saifuddin Zuhri diberi gelar pahlawan nasional. Ketua Umum DPP PAN ini menilai dedikasi pria yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan itu sangat tinggi terhadap perkembangan dan pembangunan Indonesia seutuhnya.

“Iya saya setuju pemberian gelar pahlawan nasional kepada Beliau (KH Saifuddin Zuhri), karena Beliau sosok ulama yang telah berjuang dalam proses kemerdekaan Indonesia,” ujar Hatta kepada Duta Masyarakat usai menghadiri pembukaan pelatihan dai di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Jumat (5/7).

Namun demikian, pemberian gelar pahlawan nasional kepada seorang tokoh tidak diberikan begitu saja sebab harus melalui seleksi dan mengikuti proses aturan yang telah ditentukan. “Pemberian gelar pahlawan nasional itu kan ada tim khusus, ada panitianya yang menyeleksi dan menentukan bahwa tokoh itu diberi gelar atau tidak, ya mudah-mudahan saja bisa,” ungkapnya.
 
Dukungan juga datang dari Ketua MUI Pusat, KH Ma’ruf Amin. Kiai Ma’ruf mengatakan KH Saifuddin layak menjadi pahlawan nasional karena pengabdiannya kepada negara memang nyata. “Beliau kan pernah jadi Menteri Agama, Sekjen PBNU, Partai NU, dan pernah berjuang mengusir penjajah saat menjadi panglima Hizbullah. Beliau menjabat di jabatan strategis lainnya,” ujarnya.
 
Atas dasar keteladanannya itu, KH Saifuddin pantas diberikan gelar sebagai pahlawan nasional. “Jadi, memang sudah sewajarnya, kalau membaca kisah perjuangan dan pengabdian Beliau itu, pantas diberi gelar pahlawan nasional,” ungkapnya.
 
Namun, lanjut Kiai Ma’ruf, selain KH Saifuddin juga banyak tokoh dan ulama pejuang dan pengabdi negara yang belum diberikan gelar pahlawan nasional. Misalnya Gus Dur. “Beliau kan belum diberi gelar pahlawan, karena masih proses,” katanya.

Meski usulan dan rekomendasi dari berbagai kalangan agar KH Saifuddin diberikan gelar pahlawan nasional sudah lama tapi karena harus mengikuti proses seleksi, gelar pahlawan ini belum diberikan. “Jadi memang ada kriteria-kriteria tersendiri untuk pemberian gelar pahlawan nasional, saya tidak tahu ukuran dan kriterianya seperti apa, akan tetapi ada tokoh yang menjadi prioritas dan tentu diukur besar kecilnya perjuangan dan pengabdiannya, saya kira begitu,” kata Kiai Ma’ruf.

Rapi Kliping Duta Masyarakat

Banyak kenangan dan pengetahuan tentang kenegaraan, politik, budaya dan penguatan tradisi pesantren yang dipersembahkan oleh KH Saifuddin Zuhri untuk agama, negara, dan anak bangsa. Bukti kenangan dan pengetahuan itu masih terawat apik dalam bentuk majalah, koran, makalah, buku, album, video, dan foto-foto serta dokumen penting lainnya.

Semua arsip tersimpan dan tertata rapi dalam ruangan pribadi KH Saifuddin Zuhri dan ruangan umum di kantor Yayasan Saifuddin Zuhri yang beralamat di Jl. Daud No. 31 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Sekretaris Yayasan Saifuddin Zuhri, H Ali Zawawi, mengatakan, banyak dokumen dan karya-karya penting KH Saifuddin Zuhri dari awal perjuangan hingga masa-masa jayanya, masih tersimpan rapi di yayasan ini. “Seperti Koran Duta Masyarakat itu sampai sekarang masih ada,” ujarnya.
 
Bahkan untuk majalah dan koran, lanjut Ali Zawawi, oleh KH Saifuddin Zuhri memang sengaja dikliping dan dijilid menjadi satu bandel besar, untuk dokumen dan menjadi arsip penting. “Jadi, seperti Koran Duta Masyarakat itu dikumpulkan dan dijilid besar gitu,” ungkap orang yang aktif di Yayasan Saifuddin Zuhri sejak 1990 ini.

Menurut Ali Zawawi, selain buku dan karya besar, banyak peninggalan dan kontribusi yang diberikan KH Saifuddin terkait pendidikan dan penguatan tradisi pesantren, yang dikembangkan di Yayasan Saifuddin Zuhri. “Yakni 4 pilar Pesantren,” ujarnya.

Empat pilar itu meliputi, manajemen kepesantrenan, pelatihan guru-guru (by skill), pengembangan ekonomi pesantren dan pengembangan tradisi menulis. “Jadi, 4 pilar pesantren peninggalan Beliau inilah yang masih kami jalankan dan dikembangkan di sini,” terangnya.

Ia berharap, usulan semua pihak agar KH Saifuddin Zuhri menjadi pahlawan nasional terkabul dan terealisasi segera. “Terpenting lagi adalah agar semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan mengalir terus, serta menjadi pelajaran berharga untuk negara dan bangsa,” pungkas Ali Zawawi. (*)

Penulis: HUDA SABILY, JAKARTA

05/07/2013 | Dalam Kategori: Berita Nasional |

Menanti Gelar Pahlawan untuk KH Saifuddin Zuhri

Kamis, 04 Juli 2013, 12:18 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,  Dukungan mengalir deras. Sejumlah tokoh meminta agar KH Saifuddin Zuhri dianugerahi sebagai pahlawan nasional.

Sebut saja, misalnya, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan tokoh perempuan Khofifah Indar Parawansa. Usulan mereka sampaikan kepada pemerintah.

Saifuddin merupakan pejuang yang juga ulama. Ia lahir pada 1919 di Banyumas, Jawa Tengah. Harry Tjan Silalahi dari Center For Strategic and International Studies (CSIS) juga mendukung agar disematkan gelar pahlawan nasional untuk Saifuddin. Ia mengenal sosok Saifuddin. Menurut dia, Saifuddin sangat berani dan pantas menjadi pahlawan nasional.

Dari Banyumas, Jawa Tengah, baru Soedirman yang dikenal sebagai pahlawan. “Perlu juga pahlawan yang berbasis ulama, mereka juga ikut berperang,” kata Harry di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (2/7). Ia mengaku pernah berinteraksi dengan Saifuddin. Pertemuannya selalu menjadi kenangan dan penyemangat dirinya.

Ia mencontohkan, Saifuddin berani berkata kepada Presiden Sukarno agar tak membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saifuddin berani bertempur di garis depan medan perang, juga aktif dalam organisasi dan menjadi pembantu presiden. Didikan sejak kecilnya yang bernuansa pesantren, kata Harry, membuatnya tak pernah meninggalkan kewajiban sebagai Muslim.

Perilaku Saifuddin yang mulia, perilakunya yang santun, juga bertanggung jawab membuat sosok ini banyak dikagumi oleh banyak orang. Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, juga kagum. “Akhlaknya tidak perlu dipertanyakan lagi,” ujarnya. Meski ia berjuang langsung merebut kemerdekaan bersenjatakan bambu runcing, Saifuddin tak pernah meninggalkan tugas utamanya sebagai ulama.

Said mengatakan, Saifuddin selalu berusaha membantu orang-orang di sekitarnya untuk lebih memahami ajaran agamanya. Putri kandung Saifuddin, Farida Salahuddin Wahid, mengatakan, ayahnya ikut turun memimpin perang bersama pasukan Hizbullah. Mereka menentang keberadaan tentara Belanda maupun Jepang lewat perang gerilya.

Menurut dia, dalam usianya yang baru 19 tahun, ayahnya kala itu sudah menjadi ketua Pemuda Ansor Jawa Tengah bagian selatan. Lalu, Saifuddin dipercaya sebagai komandan Hizbullah Jawa Tengah yang mengangkat senjata memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia masuk keluar hutan, ikut berperang secara gerilya, khususnya di wilayah selatan Jawa Tengah.

Anak dan istrinya pun ikut serta dalam perjuangannya. “Saat itu, ibu saya sedang hamil besar sembilan bulan, tetap ikut mendampingi ayah berperang,” katanya. Mereka bahkan sering terdesak hingga masuk jauh ke dalam hutan demi menghindari kejaran musuh, tinggal di pengungsian, hingga dititipkan kepada kawannya. Perjuangannya membuahkan hasil, penjajah terusir.

Atas jasanya dalam perjuangan, Saifuddin diberi tanda kehormatan Bintang Gerilya pada 1965. Beberapa penghargaan Satya Lancana juga diperolehnya karena ia selalu terlibat aktif dalam membela Tanah Air, baik untuk merebut kemerdekaan maupun untuk mempertahankannya. Pada usia 35 tahun, kata Farida, ayahnya menjabat sekretaris jenderal PBNU.

Reporter : Rosita Budi Suryaningsih    
Redaktur : Heri Ruslan

Top