Senayan - Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin meminta agar perbedaan pendapat yang terjadi di masyarakat tidak sampai mengoyak Keindonesiaan. Ia juga mengajak menyarakat supaya tetap ada upaya untuk saling melupakan peristiwa tang terjadi di masa lalu.

"Saat ini, konflik yang mengatasnamakan agama mulai marak. Mungkin kalau dengan pendekatan hukum, penyelesaiannya tidak terlalu tuntas. Karenanya, saya mengajak untuk dilakukan pendekatan dari hati ke hati," ujar Lukman dalam acara jumpa pers usai menemui Forum Silatuhrahmi Anak Bangsa (FSAB), Jumat (24/5).

Ia menjelaskan, konflik dan perbedaan pendapat yang melanda Indonesia sudah berlangsung lama. Setahun setelah merdeka, tahun  1946, sudah terjadi perbedaan pendapat dari para pendiri bangsa, yang kemudian marak pada tahun 1950-an. "Namun perbedaan yang terjadi, jangan sampai mengoyak Keindonesiaan," tegasnya.

Sementara, salah seorang tokoh FSAB Tatto Prajamanggala mengatakan, forum ini terdiri atas anak-anak yang orang tuanya pernah ikut terlibat dalam konflik ideologi masa lalu. Misalnya, anak tokoh DI/TII Sarjono Kartosuwiryo, anak tokoh PKI DN Aidit, dan anak tokoh Pahlawan Revolusi Amelia Yani.

Forum Silaturahmi Anak Bangsa ini juga akan mengadakan pertemuan dalam rangka ulang tahun ke 10 pada Sabtu (25/5) besok.
Penulis : Iman Firdaus - Editor : Charles Siahaan     Jum`at, 24 Mei 2013 15:18:02