Merdeka.com - Pemilu 2014 dinilai paling banyak terjadi politik uang. Hal ini dikarenakan sistem pemilu dengan proporsional terbuka yang membuat celah praktik uang semakin merajalela.

Wakil Ketua Umum PPP Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, sistem terbuka membuka celah terjadinya praktik politik uang. Akibatnya, tidak sedikit caleg yang secara kasat mata dinilai memiliki kualitas baik dan berjiwa kenegaraan dikalahkan oleh caleg yang memiliki uang.

"Jika sistem proporsional terbuka ini dipertahankan untuk Pemilu 2019 kejadian yang sama (politik uang) akan terulang," ujar Lukman dalam diskusi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (5/5).

Lukman yang juga Wakil Ketua MPR itu menilai, pemilu kali ini lebih brutal dibandingkan dengan Pemilu 2009. Dia mengaku telah mengikuti pemilu selama lima kali.

"Terus terang saja selama 5 kali saya sebagai anggota dewan, pemilu ini yang sangat parah sekali. Namun demikian kita semua harus menjalaninya," kata Lukman.

Lebih lanjut, Lukman menambahkan, pemilu saat ini merupakan pemilu yang paling memalukan sepanjang sejarah dibanding pemilu sebelumnya. Selain tidak adanya ketegasan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), pemilu dengan sistem terbuka menjadikan praktik politik uang makin subur.

"Saya hanya pesan kepada para caleg yang sudah terpilih nanti, untuk lebih mementingkan kepentingan rakyat. Karena caleg tersebut dipilih oleh rakyat," tandasnya.

Reporter : Muhammad Sholeh | Senin, 5 Mei 2014 22:07