Yogyakarta, (Antara Sumbar) - Ulama menghadapi tantangan yang semakin kompleks dengan adanya krisis figur kebajikan dan keteladanan karena pengaruh globalisasi, kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

"Tantangan yang dihadapi ulama ke depan akan semakin berat karena globalisasi juga membawa dua kutub ekstrem yang bisa membahayakan keberagamaan di Indonesia," katanya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis.

Pada Pengajian Ramadhan bertema "Dakwah Islam yang Mencerahkan Menuju Indonesia Berkemajuan", ia mengatakan dua kutub itu terdiri atas satu kutub yang mudah mengkafirkan dan satu kutub lainnya yang memiliki paham bebas tanpa batas.

"Oleh karena itu, kaderisasi ulama harus dilakukan. Hal itu juga untuk membantu munculnya kembali figur kebajikan dan keteladanan," katanya.

Menurut dia, para ulama juga harus bisa membedakan antara esensi dakwah dengan amar ma'ruf nahi munkar.

Dakwah yang harus dilakukan pada masyarakat majemuk seperti Indonesia harus dakwah dengan mengedepankan mau'idhah hasanah (lebih pada cara-cara yang baik dan tidak memaksakan).

Amar ma'ruf nahi munkar, kata dia, lebih ditujukan pada orang-orang yang memang sudah beriman, sudah Islam.

Esensi dari amar ma'ruf nahi munkar itu adalah mengajak pada kebajikan dan mencegah kemungkaran atau keburukan.

"Hal itu sudah menjadi konsekuensi dari keimanan seseorang. Jika dia sudah memilih menjadi seorang mukmin, maka harus melakukan amar ma'ruf nahi munkar," katanya.

Pengajian Ramadhan bertema "Dakwah Islam yang Mencerahkan Menuju Indonesia Berkemajuan" itu diselenggarakan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. (*/jno)

ANTARA Sumbar | Nasional - 03/07/2014 08:27 WIB