Jakarta--Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi konflik karena keberagaman dan pluralitas masyarakat. Perbedaan itu menjadi positif bila ada sinergi. Sebaliknya menjadi potensi disintegrasi dan tercerai berai apabila tidak ada kearifan.

“Agama bisa menjadi salah satu faktor pemicu. Perbedaan agama bisa mengarah positif dan negatif.

Apalagi  ini menyangkut masalah keyakinan,” kata Lukman Hakim Saifuddin ketika menerima delegasi peserta program “Penguatan Moderatisme Keagamaan Bagi Tokoh Muda Lintas Agama” di ruang rapat pimpinan, kamis 29 Maret 2012. Program yang diselenggarakan Center for Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta diikuti 30 peserta tokoh muda lintas agama. Dari jumlah itu 10 diantaranya dari Papua (lima orang dari Jayapura dan lima lainnya dari Manokwari).

Menurut Lukman Hakim Saifuddin, potensi konflik termasuk konflik bernuansa agama memang perlu dicermati karena bangsa Indonesia sangat besar. Jumlah penduduk Indonesia sebanyak 240 juta lebih merupakan terbesar keempat di dunia, setelah Cina, India, Amerika Serikat. Dan, Indonesia menempati bentangan geografis yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai negara besar, Indonesia memiliki keragaman etnis, budaya, dan agama. Indonesia memiliki 726 bahasa lokal. Di Papua, setiap suku mempunyai bahasa lokal yang berbeda dengan suku lainnya. “Keragaman seperti itu menimbulkan perbedaan-perbedaan. Perbedaan menjadi berkah apabila bila ada sinergi. Sebaliknya keragaman itu juga menjadi potensi disintegrasi jika tidak ada kearifan,” kata politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Agama menjadi salah satu faktor potensi konflik itu. Apalagi menyangkut soal keyakinan (iman). Setiap agama memiliki misi dakwah. “Inilah yang menjadi titik kritis yang bisa berkembang menjadi konflik kalau kita tidak memiliki kearifan terhadap agama. Padahal, agama itu sebenarnya adalah memanusiakan manusia. Mensejahterakan alam semesta. Sehingga perbedaan tidak terlalu prinsipil karena memiliki muara yang sama pada hakikat beragama,” jelas Lukman.

Sampai saat ini belum ada konflik agama di Papua. Lukman berharap jangan sampai terjadi konflik bernuansa agama di Papua . Karena itu, dia mengapresiasi program CSRC yang melibatkan tokoh-tokoh muda lintas agama di Papua untuk mempertemukan cara pandang. “Ini sejalan dengan program MPR, yaitu sosialisasi 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.

Metode seperti Training of Trainers (TOT) dan sosialisasi 4 pilar yang dilakukan MPR  tidak hanya bicara tentang konstitusi tetapi juga filosofi bangsa. Lukman mengatakan MPR membuka diri bekerjasama dalam sosialisasi 4 Pilar di Papua untuk memberikan pemahaman bahwa keragaman harus disikapi dengan kearifan, bagaimana hidup berpancasila, berkonstitusi, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika.  “Sangat penting keberadaan tokoh muda lintas agama ini dalam menjadi ke-Indonesiaan yang beragam,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur CSRC Irfan Abubakar mengungkapkan bahwa program training “Penguatan Moderatisme Keagamaan bagi Tokoh Muda Lintas Agama” sudah melibatkan sebanyak 60 tokoh muda lintas agama di Papua. Dari program itu sudah terbagi enam kelompok di enam kabupaten di Papua untuk melakukan aksi di akar rumput (grassroot).

“Tokoh-tokoh muda lintas agama di Papua sangat siap untuk mengembangkan toleransi kehidupan beragama daripada konflik. Ini merupakan bagian dari sosialisasi 4 pilar kehidupan berbangsa dan bernegara karena menanamkan kerukunan, toleransi, dan saling menghargai,” ujarnya.
MPR RI, Kamis, 29/03/2012 14:34