- Written by: Redaktur
JAKARTA. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, kampanye seharusnya bertujuan mengajak masyarakat kepada hal-hal yang positif.
"Kampanye itu kan mengajak kepada hal-hal yang positif, bukan malah menjelekkan yang lain," kata Lukman di Jakarta, Rabu (2/7) malam. Menurut dia, pada akhirnya masyarakat akan menilai segala rupa kampanye yang saat ini berlangsung menjelang pemilu presiden.
Lukman berkeyakinan masyarakat sudah dewasa, terlatih, dan terdidik, untuk menilai bentuk-bentuk kampanye yang membawa kepada kebajikan. "Menurut saya kontraproduktif, kampanye yang mendiskreditkan pihak lain," kata Lukman.
Selain itu, Lukman mengingatkan kepada semua tim kampanye untuk tidak memakai rumah ibadah sebagai tempat kampanye ataupun politik praktis. "Sudah ada aturan tegas dalam hal ini, tidak bisa disepelekan." (Arimbi Ramadhiani)
Kamis, 03 Juli 2014 | 08:15 WIB
- Written by: Redaktur
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan apresiasinya terhadap jasa aktivis hak asasi manusia, Munir, yang berkontribusi dalam merumuskan peraturan terkait HAM. Menurut Lukman, berkat kontribusi Munir, persoalan HAM memiliki dasar hukum yang kuat.
"Negara Indonesia menjamin perlindungan hak-hak pertama kali itu adalah lahirnya TAP MPR 17 Tahun 1998. Saya adalah saksi menyadari betul kontribusi beliau (Munir) luar biasa dalam ikut merumuskan," kata Lukman dalam acara Melawan Lupa di Auditorium Pegadaian, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (2/7/2014).
Lukman mengatakan, setahun kemudian, muncul UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM yang mengadopsi TAP MPR tersebut. Pada 2000, pertama kali HAM diatur dalam UUD 1945.
"Bahkan, jumlah pasalnya paling banyak di antara bab-bab lain. Tidak tanggung-tanggung, ada 10 pasal mengatur hak asasi manusia sejak Pasal 28a, 28b, 28c, sampai 28g," sebut Lukman.
Sementara itu, setiap kali membaca regulasi tentang HAM, Lukman mengaku selalu mengenang sosok Munir. Menurut dia, kontribusi Munir cukup besar karena Munir yang pertama kali memperkenalkan HAM kepada Lukman.
"Saya sama sekali tidak cukup bekal pengetahuan HAM. Munir sangat banyak jasanya dalam memperkaya HAM," kata Lukman.
Penulis : Arimbi Ramadhiani | Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Rabu, 2 Juli 2014 | 23:29 WIB
- Written by: Redaktur
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut aktivis hak asasi manusia, Munir (almarhum), sebagai orang yang paling berjasa dalam mengenalkan hak asasi manusia. Peran mantan Koordinator Kontras itu banyak, baik untuk diri Lukman maupun masyarakat Indonesia.
"Setiap kali saya membaca regulasi tentang HAM, saya tak bisa tidak mengenang almarhum. Dia satu-satunya yang mengenalkan HAM pada saya. Sahabat Munir sangat banyak jasanya dalam memperkaya HAM," ujar Lukman saat mengisi Kuliah Umum Agama dan HAM di Jakarta, Rabu, 2 Juli 2014 malam.
Munir, kata Lukman, ikut merumuskan Ketetapan MPR 17 Tahun 1998 yang menjamin perlindungan hak-hak setiap warga negara. Lalu, kata Lukman, setahun kemudian, muncul UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM yang mengadopsi TAP MPR tersebut dan pada 2000, HAM masuk dalam UUD 1945.
"Bahkan, jumlah pasalnya paling banyak di antara yang lain. Tak tanggung-tanggung, ada sepuluh pasal yang mengatur HAM, yakni Pasal 28a, 28b, 28c, dan seterusnya," ujar Wakil Ketua Partai Persatuan Pembangunan ini. (Baca: Gerilya Prabowo Bersihkan Citra di Kasus HAM)
Dalam kuliah umum yang digelar Omah Munir ini, tampil dosen STF Driyakarya Karlina Supelli sebagai pembicara. Acara dimeriahkan dengan penampilan dari Glenn Fredly, Gigi, Fajar Merah--putra Wiji Thukul--dan Diva--putri Munir.
Menteri Lukman menjelaskan Munir bukan sekedar teman, tetapi juga sahabat yang banyak memberi pemahaman tentang HAM. Pemikiran Munir banyak mewarnai penempatan HAM dalam konstitusi. Kerja keras Munir telah berhasil membangun kesadaran terhadap tegaknya harkat manusia.
Tampil mengenakan baju batik tanpa songkok di atas podium, Menteri Agama menegaskan bahwa dirinya tak cukup banyak memahami HAM. Wawasannya dalam hal ini sangat terbatas. Oleh karena itu, jika materi yang disampaikan dianggap sebagai kuliah umum, menurut dia, sesungguhnya tidak tepat. Akan lebih tepat disebut berbagi pengalaman.
Sebagai ungkapan rasa syukur bahwa dirinya diberi kesempatan dan kehormatan berbicara di hadapan para aktivis HAM, Lukman mengajak hadirin untuk membacakan surat Al Fatihah bagi almarhum. Munir meninggal diduga dibunuh dengan cara diracun di atas pesawat dalam pejalanan ke Belanda pada 7 September 2004.
Lukman mengatakan agama selalu mengajak kepada kedamaian dan keselamatan. "Jangan sampai agama menjadi faktor yang memisahkan antara umat manusia karena tidak ada satu pun agama yang mengajarkan perpecahan, permusuhan, dan pertikaian," katanya.
Kamis, 03 Juli 2014 | 11:34 WIB
