- Written by: Redaktur
JAKARTA, PESATNEWS- Kasus penyerangan lapas II B Sleman, DIY, memang memukul telak institusi lembaga pemerintah. Bahkan berita penembakan yang menghilangkan nyawa 4 napi itu, telah menyebar sampai mancanegara. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran Lukman Hakim. Dimana sebuah lembaga resmi negara bisa dibobol oleh oknum yang tidak dikenal dalam waktu sekejap.
"Itu berkaitan dengan komentar Pangdam 4 Dipenogoro, yang mengatakan tidak ada anggota Kopasus yang terlibat. Nah inikan lebih menghawatirkan. Orang bisa sampai melakukan aksi seperti itu," ujar, Wakil MPR ini.
Ditegaskan Lukman, negara akan sangat khawatir jika TNI dan Polri tidak bisa mengungkap kasus tersebut. Karena jika benar penembakan LP dilakukan oleh oknum di luar institusi TNI-Polri, makan negara dalam kekhawatiran besar.
"Saya justru takut kalau ada orang lain bisa melakukan aksi seperti itu. Apa lagi sampai tidak terungkap itu luar biasa lagi," ujarnya.
Lukman berharap, penyidikan tidak hanya bisa dilakukan oleh TNI maupun polri saja, tetapi pemerintah juga menyediakan penyidik dari luar institusi keduanya. Karena menurut Lukman, dikhawatirkan jika penyidikan dilakukan oleh TNI dan Polri, masyarakat makin tidak mengetahuinya.
"Upaya untuk membuka kasus ini harus ada semacam TPF (Tim Pencari Fakta). Untuk pembentukannya sendiri bisa dari kalangan akademisi, ahli, pers atau sebuah lembaga yang punyai institusi yang mampu yang bisa melakukan investigasi," ungkap Lukman.[ ]
Editor : Ervan Bayu Setianto
Senin, 25-03-2013 14:53
M. Jasri
- Written by: Redaktur
Jakarta - Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin mengusulkan pembentukan tim pencari fakta (TPF) kasus penyerangan LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta. TPF dibentuk agar penyelidikan berjalan transparan.
"Upaya yang harus dilakukan bentuk TPF," kata Lukman Hakim dalam diskusi di Gedung MPR, Jakarta, Senin (25/3/2013).
Masyarakat sebut Lukman akan kesulitan mendapat informasi utuh mengenai peristiwa dan pelaku penyerangan bila penyelidikan hanya dilakukan Polri atau TNI. "Selama penyelidikan TNI-Polri, selama itu pula masyarakat sulit mendapat penjelasan utuh," tuturnya.
TPF yang dibentuk nantinya memiliki komposisi anggota yang didominasi akademisi. "Kalau pun ada unsur TNI-Polri, dia bagian saja," ujar Lukman.
Dia berharap kasus penyerangan Sleman segera terungkap. "Kalau tidak terungkap lebih mengerikan lagi. Perlu ada keseriusan mengungkap kasus ini," sebutnya.
Penyerangan Lapas Sleman terjadi Sabtu (23/3) sekitar pukul 00.30 WIB. Penyerang mengancam juga menganiaya sipir saat memaksa masuk dan meminta ditunjukan sel 4 tahanan, tersangka pengeroyokan Sertu Santoso.
Setelah menemukan keempat tahanan di A5, anggota kelompok bersenjata langsung memberondong peluru. Ada 31 peluru di tubuh korban.
(ndr/ndr)
Senin, 25/03/2013 15:05 WIB
Ferdinan - detikNews
- Written by: Redaktur
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin menegaskan perlunya petinggi TNI memberi klarifikasi soal penyerangan oknum-oknum yang menyerbu Lapas Sleman, Sabtu (23/3/2013), dini hari, yang diduga dilakukan kesatuan Kopassus TNI.
"Disitulah perlunya petinggi TNI beri klarifikasi, agar simpang-siur benar-tidaknya Kopassus sebagai pelakunya tak makin liar di masyarakat," kata Lukman Hakim Saifuddin ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, hari ini.
Menurut wakil ketua PPP ini tindakan oknum itu amat merusak nama baik institusi TNI, dan secara khusus kesatuan Kopassus.
"Nalar kita tak bisa percaya, tindakan brutal seperti itu dilakukan justru oleh satuan terbaik di jajaran TNI kita," kata dia.
Menurut Lukman petinggi TNI harus secepatnya memberikan klarifikasi atas kejadian itu, dan meminta maaf kepada rakyat atas kejadian itu.
??"Beri sanksi hukuman berat bagi pelaku-pelakunya dan atasan mereka," kata Lukman.
Diberitakan sebelumnya, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cebongan Sleman diserang puluhan orang bersenjata pada Sabtu (23/3/2013) sekitar pukul 02.00 WIB. Akibatnya, empat orang tahanan kasus kericuhan Hugos Cafe tewas dengan luka tumbak.
Kapolda DIY, Brigjen Pol Sabar Rahardjo yang datang ke TKP menjelaskan, penyerangan dilakukan sekitar 17 orang. Setelah melompati pagar komplek Lapas, penyerang memaksa petugas jaga menunjukkan sel ke empat tahanan dan melakukan penembakan.
Tribunnews.com - Sabtu, 23 Maret 2013 11:47 WIB
